Gembala Berbau Domba

Sabtu, 7 Desember 2019
Peringatan Wajib Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan I     : Yes 30: 19-21.23-26
Bacaan Injil : Mat 9: 35-10;1.6-8 

KALA mengikuti sebuah rekoleksi, saya datang dengan pakaian yang cukup stylish: kaos ‘oblong’ dilapis kemeja flannel dan jeans yang sedikit bolong-bolong (trend anak muda saat ini). Dengan penampilan seperti itu, kebanyakan peserta tidak menyadari bahwa saya seorang frater. Mereka sibuk mengobrol dan menikmati hidangan di ruangan itu. Pada sesi perkenalan, mereka pun kaget ternyata saya pembawa materinya. Melihat reaksi itu, saya bertanya kepada mereka, “apa reaksi kalian ketika pertama melihat saya?”. Sebagian besar dari mereka menjawab bahwa saya tidak tampak seperti frater.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kemasan kerap kali dapat menipu. Kemasan selalu dibuat menarik agar memberi kesan positif dan memaksa seseorang untuk melirik. Pada hari ini kita sungguh disegarkan oleh Matius dalam kisah Yesus mengutus murid-muridNya. Semua yang telah dibaptis secara resmi, secara langsung mendapat perutusan dari Kristus juga. Kali ini Yesus berkata, “tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit”. Menurut saya, dewasa ini kalimat itu dapat diartikan menjadi, “gembala memang banyak, tetapi yang berbau domba sedikit”. Berdasarkan kisah di atas, saya beberapa kali merenung, apakah style seperti itu salah? Apakah tindakan seperti itu menjauhkan umat dari bayangan figur seorang imam? Tapi bukankah yang didalam lebih penting dari pada kemasan?

Permenungan saya mengarahkan saya pada persiapan (preparation) seorang calon imam. Menjadi imam bukan langkah yang singkat, membutuhkan sekitar 10 tahun untuk menggodok diri hingga siap menjadi pewarta. Tiap calon imam harus menuntaskan pendidikan sampai S2 agar pemikirannya tidak menyesatkan, membutuhkan gaya hidup yang berbeda dengan umumnya anak muda, membutuhkan pengorbanan afeksi, dan lain sebagainya. Persiapan ini dalam Ratio Fundamentalis artikel 88 disebut sebagai initial formation, yaitu sebuah masa pembentukan agar selaras dengan kehendak Allah dan menjadi seperti Kristus. Dalam Pastores Dabo Vobis bab 6, diungkapkan istilah ongoing formation; di mana setelah tahbisan presbyterat pun pembinaan imam masih terus berlanjut, bukan sudah selesai di situ saja.

Saudara-saudari yang terkasih Dalam Yesus Kristus, semua itu merupakan upaya-upaya yang dilakukan agar para gembala memiliki bau domba. Memang bukan hal yang mudah, proses seleksi tentunya diberlakukan dalam hal ini. Sama seperti kisah Matius pada bacaan hari ini, bahwa dari orang banyak yang mengikuti Yesus Kristus, hanya kedua belas murid yang mendapat karunia mengusir kuasa jahat dan menyembuhkan. Hari ini kita juga memperingat Santo Ambrosius yang dalam refleksi saya merupakan seorang gembala yang berbau domba. Kegigihannya melawan ajaran sesat arianisme, serta hidup rohaninya yang menginspirasi Agustinus menjadi seorang santo setelahnya.

Saudara-saudari yang terkasih, kemasan memang penting tapi pengolahan dalam diri juga tidak kalah penting. Marilah kita terus menempa dan melatih hidup rohani kita bukan untuk orang tua kita, bukan untuk kekasih kita, bukan untuk dilihat orang, bukan untuk alasan-alasan di luar diri kita, tetapi terlebih dahulu untuk diri kita. Kita berusaha menjadi baik, bahkan lebih baik, seturut kehendak Allah Bapa yang Mahakasih. Tuhan memberkati.

[Frater Petrus Damianus Kuntoro]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.