Gereja Batu Karang

Renungan Harian
Kamis, 08 Agustus 2019
Pw S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkotbah, Iman
Bacaan : Bil 20: 1-13, Mat 16:13-23 

Batu dasar jemaat diperoleh Simon yang diakui sebagai Petrus dalam ‘wejangan’ Yesus Kristus sebelum hari kesengsaraannya tiba. Karang mengibaratkan sebuah dasar yang kokoh untuk membangun bangunan (bdk Mat 7: 24-25). Allah menghendaki sesuatu yang baik bagi umatnya lewat Yesus Kristus.

Demikian disampaikan Yesus kepada para Murid-nya bahwa akan banyak tantangan yang dilewati untuk mewartakan kebenaran ini. Tetapi melalui jati diri Petrus sebagai ‘batu karang’ dan Yesus sebagai ‘batu penjuru’ (Mrk 12: 10; Kis 4:11; 1Ptr. 2:4-8), alam maut tidak akan menggetarkan iman (ay. 18c). Disebut petra (Latin) yang berarti batu besar/batu karang (Mat 16:18), sedangkan kepha/kefas (Aram) dalam bahasa terjemahan Indonesia merujuk pada pengakuan iman Petrus yang hingga saat ini diteruskan dalam semangat iman para Uskup (pengganti Petrus).

Digemakan dalam bait pengantar Injil pada hari ini, menjadi semangat yang senantiasa mengalir dalam diri kita sebagai pengikut Kristus. Menjadi batu karang bukan sesuatu yang mudah, karena menjadi penopang itu butuh tenaga yang sangat kuat. Ibarat beton pasak bumi yang menopang sebuah bangunan, untuk menancapkan pada kedalaman yang diinginkan butuh alat bantu. Seperti kendaraan alat berat. Hal ini diperlukan untuk menjaga kestabilan sebuah bangunan yang cukup besar.

Refleksi yang boleh saya dapat melalui hal ini, baptisan yang kita peroleh melalui dasar iman Para Rasul harus kita jaga dan pelihara. Karenanya, setiap manusia memiliki tanah yang berbeda-beda (Mat 13: 20-23). Sehingga kita tidak perlu malu untuk meminta bantuan untuk saling menguatkan iman satu dengan yang lain, agar bangunan iman kita kokoh dan stabil. Seperti Petrus dan Paulus yang senantiasa bekerja sama mewartakan Injil ke ujung dunia.

 Demikian yang boleh kita renungkan adalah sosok Santo Dominikus (1170-1221) yang kita rayakan hari ini.  Beliau adalah orang yang cukup gigih dalam mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. Karena kegigihannya ia membentuk Ordo Pengkotbah (Ordo Predicatorum). Melalui penglihatannya Santo Petrus dan Paulus mendatangi dan  berkata , “Pergilah dan wartakanlah Injil, karena engkau telah ditentukan Allah untuk misi pelayaan itu”.

Moto ini menjadi semangat untuk melawan ajaran-ajaran sesat dan menjalani hidup doanya. Karyanya yang ia lakukan tidak serta-merta dilakukan seorang diri, bersama Kardinal Egolino dan teman-teman ordonya ia berhasil membuat banyak orang bertobat.  

Sebelum Santo Dominikus meninggal ia berpesan, “ Tetaplah penuh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!” Tuhan Memberkati. (Frater Damian)

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: