Healing Community

RD. Jeremias Uskono

Second Sunday of Easter (Divine Mercy Sunday)
First Reading: Acts 5:12-16
Responsorial Psalm: Psalms 118:2-4, 13-15, 22-24
Second Reading: Revelation 1:9-13, 17-19
Gospel: John 20:19-31

Dearest brothers and sisters,

HUMANS are not meant to live alone. Heavy temptations we face in daily life often blur our life principle. As a result, our identity is at stake. Our sense of identity may gradually decrease. Therefore, we need partners, friends, family, communities to keep us afloat in the sea of crisis.

To belong and live together in a community, one must be willingly ready to learn everything about life. This criterion appears in today’s First Reading and Gospel. In both readings, community is illustrated as a group of people who believe in Christ and commit to live according to this faith. The community in the First Reading was formed because they have witnessed “many signs and wonders were done…by the hands of the apostles” (Acts 5:12), and wanted to see more of these. The community learned about faith from the apostles’ work, and they even helped “bringing the sick and those afflicted with unclean spirits” (Acts 5:16) to be healed by Peter.

We also need to realize that community consists of diverse people. Each of them has different perspective, character, and behavior. In the Gospel, we find Thomas who was the most unique among other disciples. Somehow, Thomas thought that he was smarter than his friends were. He refused to believe his friends’ testimonies on Jesus before seeing the evidence. Because he felt superior to the others, he tended to stay aloof from his friends. He was rarely present when the group gathered to eat together. Therefore, he lost the opportunity to meet the risen Jesus who appeared and showed His scars at their gathering.

Faith that heals

When we feel smarter than others and insist that living alone is better, we tend to be selfish, subjective, and put too much belief in our own efforts. Our rationality may even defeat our faith. We lose our belief in mysteries, although we acknowledge that many events in our life are unfathomable. In fact, truth is not always in accordance with our senses, due to our limited perception.

My dear brethrens, Thomas’ experience gives us at least two important lessons. First, trust is more than just the power of our minds; it is beyond our sensory abilities. Faith has much more healing power than our own minds do. Second, learning from the community in the First Reading and the Gospel, community brings healing to each of its member. Through togetherness, we can heal one another, complement each other, and work together. Even when we we cannot heal each other, we can still conquer sufferings together.

God has risen. The resurrection of Christ make us increasingly believe that He is a great God who heals us, and raises us too. The resurrection of Christ is not only for each of us, but also for the sake of unity with our Church, the Catholic Church. Being alone for a while is good, but dismissing our relations with others is not. Do not let the comfort of being alone make us forget where we belong: in the community. Reach out and live in harmony with your community. Be a healing community!


Minggu Paskah ke-II (Minggu Kerahiman Ilahi) 
Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 5:12-16
Mazmur Tanggapan: Mazmur 118:2-4, 13-15, 22-24
Bacaan Kedua: Wahyu 1:9-13, 17-19
Bacaan Injil: Yohanes 20:19-31

MANUSIA tidak selamanya bisa hidup sendiri. Godaan yang semakin berat dapat membuat prinsip hidup semakin melemah sehingga identitas diri semakin lama semakin hilang. Maka, kita butuh partner, teman, keluarga, komunitas.

Kriteria orang yang bisa diajak berkomunitas adalah orang yang mau hidup berkomunitas, tidak dipaksa, dan siap untuk belajar hidup. Salah satu bentuk konkret dari kriteria tersebut tampak dalam Bacaan Pertama dan Injil Minggu ini. Komunitas di dalam kedua bacaan tersebut adalah orang-orang yang mau percaya kepada Kristus dan siap untuk menjalani hidup dalam Kristus. Komunitas di Bacaan Pertama terbentuk karena mereka mau percaya kepada Kristus karena tanda dan mukjizat yang dikerjakan oleh para rasul. Komunitas tersebut selanjutnya belajar dari karya para rasul dengan membantu mengantar orang sakit dan orang yang kerasukan setan agar disembuhkan oleh Petrus.

Kita perlu menyadari juga bahwa komunitas merupakan kumpulan orang-orang yang unik baik dari cara pandang, sifat dan tingkah laku. Maka kita temukan di dalam Injil seseorang bernama Thomas yang paling unik di antara murid-murid yang lain. Keunikannya adalah dia merasa diri lebih pintar daripada yang lain, sehingga Thomas tidak akan percaya omongan teman-temannya sebelum dia melihat langsung buktinya. Ketika dia merasa lebih pintar daripada yang lain maka dia cenderung menyendiri. Ia jarang hadir pada saat makan bersama, kumpul bersama. Ia merasa tidak ‘se-level’ bila berkumpul bersama dengan teman-temannya. Justru, kesempatan kumpul bersama ini digunakan oleh Yesus untuk menampakkan diri, menyampaikan salam dan menunjukkan bekas luka-nya. Sayangnya, Thomas tidak hadir dalam kesempatan itu.

Iman yang menyembuhkan

Ketika kita merasa lebih pintar daripada orang lain dan merasa bahwa hidup sendiri itu lebih baik bila dibandingkan dengan hidup bersama orang lain, maka hati-hati, kita akan menjadi orang yang egois, subjektif, percaya akan usaha sendiri, mengutamakan rasio yang mengalahkan iman. Dengan begitu, sebenarnya kita tidak begitu percaya dengan misteri. Padahal, banyak kejadian yang kita alami ini tidak semua dapat dimengerti. Tidak semua kebenaran dapat sesuai dengan indera kita.

Peristiwa yang dialami Thomas ini membuat kita belajar setidaknya mengenai dua hal. Pertama, bahwa sikap percaya itu lebih daripada daya pikiran kita, melebihi kemampuan kita. Iman justru lebih menyembuhkan daripada hanya dengan pikiran. Kedua, belajar dari komunitas di Bacaan Pertama dan Injil, berkomunitas itu bisa menyembuhkan pribadi masing-masing. Melalui kebersamaan, kita bisa saling terbuka, kita bisa saling menyembuhkan, saling melengkapi dan saling bekerja sama. Kalau kita tidak dapat menyembuhkan, minimal kita bisa menghadapi penderitaan bersama-sama.

Saudara-saudari, Allah telah bangkit. Seharusnya kebangkitan Kristus membuat kita semakin percaya bahwa Ia adalah Allah yang Maharahim, yang menyembuhkan kita, yang membangkitkan kita juga. Kebangkitan Kristus tidak hanya untuk diri kita masing-masing, tetapi untuk kesatuan dengan Gereja kita, Gereja Katolik. Maka, jangan pernah merasa hidup sendiri itu baik, jadilah komunitas Kristiani yang menyembuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.