Hidup yang Berkenan bagi Allah

Jumat, 30 Agustus 2019
Pekan Biasa XXI
Bacaan 1   : 1 Tes 4:1-8
Mazmur     : Mzm 97:1-2b, 5-6, 10-12
Injil      : Mat 25:1-13

SAUDARA-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, kita patut bersyukur karena kita hidup di dunia tidak bekekurangan. Kekayaan alam yang begitu berlimpah telah tersedia untuk diberdayakan oleh manusia. Kebanyakan dari kita juga berkesempatan untuk tumbuh dalam keluarga yang mengasihi kita. Ini merupakan rahmat yang luar biasa yang boleh kita rasakan karena kebaikan dan kasih Allah untuk kita semua. Namun dalam kenyataannya, ketersediaan ini justru membuat kita terlalu nyaman. Akibatnya, seringkali kita justru menjadi tergantung dengan orang lain dan berharap segala sesuatunya tinggal pakai saja.

Bacaan dalam liturgi hari ini, tepatnya bacaan pertama, menyampaikan pesan bahwa Allah menghendaki supaya kita menjadi kudus. Para rasul ialah orang kudus yang dipilih oleh Allah untuk mewartakan kabar gembira. Hidup kita juga hendaknya bercermin dari apa yang dilakukan dan dianjurkan oleh para rasul. Misalnya menghargai saudara, menghormati istri, dan hidup dalam kekudusan. Menjauhi atau menolak hal ini sama halnya dengan menolak Allah yang ingin hadir untuk kita manusia.

Sementara itu, dalam bacaan Injil, pengalaman menarik dari sepuluh gadis itu mengingatkan kita untuk mengolah pribadi menjadi yang lebih baik. Baik dalam arti selalu siap untuk menghadapi apa pun yang akan hadir tidak terduga, termasuk akan sapaan Allah bagi kita. Jika kita memilih untuk menjadi pribadi yang tidak peduli akan keadaan, kita sama halnya dengan gadis yang bodoh. Sebaliknya, jika kita memilih menjadi pribadi yang bijaksana, tentu kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan diri.

Oleh karena itu saudara-saudari terkasih, melalui bacaan hari ini Tuhan Yesus berpesan bahwa Ia datang dan menyapa setiap saat. Dengan demikian, kita percaya bahwa dengan cara apa pun–termasuk yang terlihat tidak menyenangkan, Ia selalu mengarahkan kita pada kebaikan. Yang bisa kita lakukan ialah mempersiapkan jalan bagi-Nya untuk kita terima dengan penuh sukacita.

Tuhan tak pernah lelah dan selalu bersemangat menyapa kita, bahkan lebih dari antusiasme pengantin ketika hari pernikahannya tiba. Dengan demikian, kita juga hendaknya menyiapkan diri lebih baik lagi. Kita buka hati dengan menerima kebaikan Tuhan yang setiap saat bisa kita rasakan. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Maha Pengampun, sebab Ia tak henti-hentinya mengingatkan kita semua agar menjadi kudus sehingga layak berada di kerajaan-Nya. Marilah kita pun menyambut sapaan-Nya dengan berpikir, berkata, dan berlaku kudus. (Frater Wolfgang Amadeus Mario Sara / RDHJ)


Bapa yang murah hati, berjuta terima kasih tak akan mampu membayar kebaikan-Mu yang selalu tersedia bagi kami yang berdosa ini. Jagalah dan bantulah kami untuk senantiasa hidup dalam kekudusan, agar kami pun layak berada dalam kerajaan-Mu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.