Jangan Diam    

Jumat, 22 Mei 2020

Pekan VI Paskah

Bac I. Kis. 18:9-18

Mzm. 47:2-3.4-5.6-7

Bac. Injil. Yoh 16:20-23a

 

Saudara terkasih, jika dibandingkan dengan berdoa, kegiatan bersenang-senang, berwisata, rekreasi atau berbelanja rupanya lebih menggiurkan bagi sebagian orang. Kebahagiaan yang dicari adalah kebahagiaan yang sementara, yang bisa dirasakan secara fisik saja. Kebahagiaan diidentikkan dengan keuntungan pribadi semata-mata. Jika demikian, kegiatan #dirumahsaja akan menjadi momok yang menakutkan bagi kita. Apakah kita sungguh dapat merasakan kehadiran Tuhan dengan diam #dirumahsaja?

Dalam pekan Laudato Si’ Gereja sungguh menekankan kita untuk melestarikan dan tidak merusak alam sekitar; dengan memulai kebiasaan-kebiasaan kecil di rumah sebagai wujud peduli terhadap krisis ekologi. Dengan demikian, kita sungguh menyadari diri sebagai ciptaan yang menghargai, pertama-tama diri sendiri, dan juga lingkungan sekitar kita. Pertobatan Ekologis menekankan pentingnya pertobatan yang dimulai dari diri sendiri yang berdampak pada kelompok yang lebih besar [Lih. LS 216-219).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bacaan hari ini justru mengingatkan kita akan hal penting yakni hiduplah bersama dengan Allah melalui cara yakni mewartakan kebenaran itu sendiri. Hal yang bisa kita lakukan ialah dengan pertobatan ekologis itu sendiri. Marilah kita memulai dengan hal sederhana yakni tidak merusak lingkungan sekitar. Mari juga melatih diri untuk tidak bertindak seenaknya dengan segala tawaran dunia yang menggiurkan. Mencoba untuk mengurangi hasrat memenuhi kebutuhan diri sendiri yang malah justru merugikan orang lain.

Kita boleh merasa kecewa dengan tindakan orang lain yang justru membuat kita merasakan penderitaan itu juga. Namun, Allah menegaskan dalam Injil yakni ‘kita akan mendapat dukacita, namun akan ada kegembiraan yang tidak akan diambil dari diri kita’. Kita diminta untuk tidak larut dalam kegelisahan itu namun kita justru hendak bangkit dengan bersukacita mewartakan kasih Allah itu dengan hidup baik. Setelah kita setia dalam hal ini, penting juga bahwasanya kita hendak bersikap penuh ketulusan dalam setiap perbuatan. Sehingga kita tidak membohongi diri sendiri juga Allah. Apalagi tidak melakukan apa-apa karena justru sebaliknya kita jangan diam untuk suatu kebaikan karena Tuhan pun senantiasa menyertai kita.

[Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara]


Allah yang Mahakuasa, terima kasih atas segala ciptaan-Mu yang indah yang Kau berikan untuk kami nikmati. Dalam kenyataannya seringkali kami merusak ciptaan-Mu sehingga merugikan orang lain. Ampunilah kami ya Tuhan, dan sadarkanlah kami akan arti keindahan dari segala kebaikan-Mu ini. Ajarilah kami juga untuk menghargai lingkungan sekitar dan setiap pribadi yang kami jumpai. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.