Jangan Sampai Mati Rasa

Rabu, 18 September 2019, Pekan Biasa XXIV
Bacaan I   : Tim. 3: 14-16
Mazmur     : Mzm. 111: 1-2.3-4.5-6
Injil      : Luk. 7: 31-35

DI sebuah gerbong kereta yang padat dengan penumpang, duduk seorang perempuan tertidur dengan pulas. Di samping perempuan tersebut duduk seorang laki-laki yang mencari kesempatan di tengah kesempitan. Laki-laki tersebut ingin mencuri ponsel si wanita tersebut. Ia menunggu sampai kondisi benar-benar aman karena padatnya penumpang akan menutupi aksinya. Tangan si pencuri pun mulai beraksi untuk membuka tas si perempuan. Akan tetapi, tiba-tiba si perempuan terbangun dan teriak kaget “aw”. Ternyata ada orang tua yang menginjak kaki si perempuan agar terbangun. Si perempuan itu merasa kesal dan marah karena merasa terganggu. Padahal si perempuan sengaja dibuat bangun dan kaget agar pencuri mengurungkan niatnya.

Injil hari ini mengungkapkan kekecewaan Yesus kepada orang banyak. Yesus kecewa karena mereka tidak menerima kehadiran-Nya dan Yohanes Pembaptis, bahkan Ia disebut seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai, dan orang berdosa. Yohanes Pembaptis pun dianggap kerasukan setan. Padahal apa yang dilakukan Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah suatu hal yang baik dan mulia, yakni mewartakan Kerajaan Allah dan membantu orang-orang agar hidupnya lebih baik. Akan tetapi, orang banyak menolak perbuatan-perbuatan baik yang Yesus dan Yohanes Pembaptis Pembatis lakukan.

Oleh karena sikap orang banyak itu, Yesus mengumpamakan mereka sebagai anak-anak yang duduk di pasar: ketika dibunyikan seruling mereka tidak  menari dan ketika dinyanyikan kidung duka mereka pun tidak menangis. Anak-anak yang duduk di pasar adalah simbol orang-orang Yahudi yang tidak mengerti akan kehadiran Yesus dan Yohanes Pembaptis. Tidak menarinya mereka ketika ada bunyi suling dan tidak menangisnya mereka ketika ada kidung duka adalah simbol mati rasanya orang-orang Yahudi terhadap perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis.

Mirip seperti kisah Yesus dan Yohanes Pembaptis, dalam kisah di atas, si orang tua sengaja menginjak kaki si perempuan agar terjaga sehingga menggagalkan usaha si pencuri. Tindakan baik si orang tua dipandang buruk oleh si perempuan karena mengganggu tidurnya. Yesus dan Yohanes Pembaptis pun dipandang buruk oleh orang-orang Yahudi karena selalu berseru-seru tentang Allah dan berteman dengan kaum marjinal. Si perempuan dan orang Yahudi memiliki persamaan, yakni hanya melihat apa yang tampak tanpa peduli makna apa di baliknya. Yang tampak dalam suatu tindakan menjadi hal yang utama dan menjadi penilaian baik atau buruk, benar atau salah. Makna yang ada di balik tindakan dilupakan, padahal makna merupakan hal yang penting karena menyangkut dengan tujuan dan nilai-nilai baik.

Zaman sekarang, jika tidak disadari kita dapat menjadi seperti orang Yahudi yang mati rasa seperti yang Yesus ungkapkan. Tingginya tingkat konsumsi dan perkembangan teknologi dapat membuat manusia ke arah yang lebih egois. Kita lebih mengutamakan diri sendiri dengan segala tampilannya dan melupakan makna terdalam menjadi pengikut Kristus. Kita mengisi hal-hal jasmaniah yang membuat tampak lebih keren, rupawan, kaya, dan sebagainya. Kita lupa mengisi batin kita dengan hal-hal rohani karena kurang menyadari kehadiran Yesus. Jangan sampai kita mati rasa dan tidak menyadari karya Yesus yang menebus dosa manusia. Semoga kita semakin peka menyadari dan menerima Yesus yang hadir dalam keseharian kita lewat berbagai macam persitiwa. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Ya Bapa, terbatasnya pikiran kami tidak mampu menyelami seluruh misteri-Mu. Meski demikian, janganlah biarkan kami jatuh dalam keangkuhan pikiran kami; tuntunlah kami untuk senantiasa hidup dalam hikmat-Mu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.