Kasih Melampaui Batas

  • Selasa, 21 Januari 2020
  • PW. St. Agnes, Perawan dan Martir
  • Bacaan I          : 1Sam 16: 1 – 13
  • Bacaan Injil     : Mrk. 2: 23 – 28

            Di suatu kerajaan yang megah hiduplah seorang raja dengan anak semata wayangnya. Suatu ketika anak tersebut sedang bermain di taman. Ketika ia sedang bermain di taman datanglah seorang anak dengan pakaiannya yang compang-camping, raut wajah yang lesu. Anak raja itu melihat dari kejauhan bahwa tampilan anak berpakaian lusuh itu sangat berbeda dengan apa yang ia kenakan. Kemudian ia menghampiri anak tersebut dan bertanya,” Sedang apa kau di sini?”. Jawab anak berpakaian lusuh itu “Aku lapar”. Anak ini pun segera ingin mengajak anak itu masuk untuk mengambil beberapa makanan. Akan tetapi ia teringat akan pesan bahwa tidak ada yang boleh mengajak seorang yang tidak dikenal masuk ke dalam istana. Anak raja itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk menolong. 

            Kedua bacaan hari ini, baik bacaan pertama maupun bacaan Injil, menampilkan pesan yang menarik dan tentu sangat penting. Bacaan pertama yang mengisahkan tentang Daud yang adalah seorang anak dari Isai yang diabaikan tetapi Tuhan meminta Samuel untuk memilih dia dan mengurapinya sebagai raja. Daud tidak percaya akan hal tersebut lalu Tuhan bersabda “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Bacaan Injil mengisahkan Yesus yang bersama para murid memetik bulir gandum pada Hari Sabat dan Orang Farisi langsung menegur mereka karena melakukan apa yang tidak boleh dilakukan pada Hari Sabat. Yesus pun mengatakan “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Kedua bacaan memberi pesan bahwa apa yang engkau yakini atau Imani jangan hanya berhenti pada aturan-aturannya saja. Tetapi penghayatan itu hendaklah melakukan apa yang Allah ajarkan, yaitu kasih. 

            Seringkali ketika kita berusaha membantu seseorang kita terpatok pada aturan-aturan yang sebenarnya justru menghalangi perbuatan kasih kita. “Hal ini dilarang, hal itu dilarang, kalau dilakukan nanti melanggar hukum, dll.”‘Pembenaran’ terhadap hukum atau aturan seringkali malah membuat kita menjadi orang yang kaku; yang beranggapan bahwa kita akan ‘berdosa’ bila tidak patuh. Kisah di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berbuat kasih. Karena, kasih tidak memiliki batas atau sekat antara manusia

            Hari ini, Gereja memperingati Santa Agnes seorang perawan dan martir. Maka dengan bantuan Santa Agnes hendaklah kita melihat segala sesuatu dengan hanya tidak mementingkan aturan-aturan. Bersama Santa Agnes, marilah kita senantiasa melalukan pesan Allah kepada Raja Daud: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)

Tuhan Allah Kami, seringkali kami terlalu naif memandang banyak aturan dan hukum. Bantulah kami untuk mampu mengasihi sesama tanpa sekat dan batas manusiawi yang ada. Amin

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: