Kebaikan Tanpa Batas

Senin 07 Oktober 2019
PW Santa Perawan Maria Ratu Rosario 
Bacaan I     : Yunus 1: 1-17; 2-10
Bacaan Injil : Luk 10 : 25-37

DALAM kehidupan sehari-hari, bagi kita tentulah sangat mudah untuk mengasihi orang yang dekat dan mengasihi kita, misalnya keluarga atau sahabat. Hal ini kemudian menjadi tolak ukur bagi kita untuk berbuat baik; bahwa mereka yang dekat dengan kita adalah yang perlu kita tolong. Namun dalam Injil hari ini, Yesus menunjukkan bahwa ukuran untuk mengasihi sesama tidak didasarkan pada unsur kedekatan semata.

Dalam perumpamaan yang dikisahkan oleh Yesus, imam dan orang Lewi merupakan dua orang yang ‘berkewajiban’ untuk membantu orang Yahudi yang dirampok, karena mereka adalah ‘sesamanya’. Namun ternyata mereka malah tidak peduli dan melewatinya begitu saja. Sementara itu, orang Samaria yang dianggap orang Yahudi sebagai kaum hina dan rendah, justru menunjukkan belas kasih dan penuh totalitas dalam membantu orang Yahudi itu.

Dari perumpamaan, ini kita diajak untuk mengkaji kembali makna dari kata ‘sesama’. Kita tahu bahwa kita wajib berbuat baik pada sesama kita, namun sering pula kita membatasi ‘sesama’ hanya bagi orang-orang yang termasuk dalam golongan kita; entah itu berdasarkan hubungan darah, kedekatan emosional, atau bahkan suku, ras, dan agama. Yesus menunjukkan bahwa belas kasih tidak mengenal batasan-batasan tersebut.

Sebagai umat yang mencintai Tuhan, kita patut pula mengasihi siapa pun seperti Ia yang mencintai semua orang tanpa kecuali. Kita diajak untuk menolong siapa pun yang kesusahan, terutama mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan tak berdaya. Di dalam Kristus, mereka semua adalah sesama kita. Dengan demikian, kewajiban untuk menolong orang lain tidak lagi didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu, namun betul-betul didorong oleh kesadaran dari gerak hati nurani, yakni suara Tuhan yang bersemayam dalam diri kita. (Fr. Albertus Aris Bangkit Sihotang )


Ya Bapa, ajarilah kami untuk mengasihi semua orang sebagaimana Engkau mengasihi kami semua. Utuslah Roh-Mu untuk menuntun indera-indera kami, agar kami selalu peka terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain yang memerlukan bantuan kami. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: