Kegelisahan dan Harapan

Kamis, 26 September 2019 
Hari Biasa, Pekan Biasa XXV
Bacaan 1   : Hag : 1:1-8
Mazmur     : Mzm. 149:1-6a,9b
Injil      : Luk. 9:7-9

ADA pepatah yang mengatakan “berdamailah dengan pikiranmu”. Pikiran kita seringkali tidak ubahnya seperti kutu loncat yang berpindah dari satu topik ke hal lain. Kehilangan kontrol atas pikiran sama saja dengan membiarkan diri dikuasai oleh si kutu loncat. Pertanyaannya, apakah saya rela? Apakah Anda rela? Sepertinya hal ini juga yang memunculkan kegelisahan dalam diri Herodes tatkala mendengar tentang siapa itu Yesus Kristus dan karya-karya-Nya. Pikiran-pikiran ini telah menganggunya, sehingga ia ingin bertemu dengan Yesus untuk melihat sendiri segala perbuatan-Nya itu.

Bila demikian, kenapa harus ambil pusing? Kenapa tidak mengisi pikiran dengan harapan dan sukacita? Mengenai kekhawatiran ini, kita pun secara tidak sadar bertindak seperti Herodes yang ingin bertemu sendiri dengan orang yang terkenal karena perbuatan-perbuatan hebatnya. Kita mencari-cari kepastian; berusaha menebak-nebak masa depan untuk menenangkan asumsi-asumsi liar di kepala kita. Pemikiran ini tak jarang menuntun kita untuk bertindak tidak logis: mengorbankan hubungan dengan keluarga demi pundi-pundi harta, atau bahkan datang ke ‘tabib’ berkekuatan gaib untuk mencari kesembuhan.

Tidak ada yang dapat memprediksi masa depan. Masa depan, bahkan satu menit sejak Anda selesai membaca renungan ini, adalah misteri. Tidak ada yang dapat menjamin, dan memang tidak perlu. Bila demikian, kenapa masih terus minta kepastian atas hal yang tidak bisa dipastikan?  

Tetaplah berharap. Masa depan memang misteri, tetapi untuk dapat berharap itu adalah sebuah kepastian. Hal-hal dahsyat terjadi saat kendali atas pikiran sepenuhnya ada dalam genggaman. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Yesus sungguh-sungguh memberikan harapan kepada orang lain dalam hidup-Nya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib. Orang buta melihat, orang bisu berbicara, orang tuli mendengar, orang yang kerasukan disembuhkan. Yesus memberikan harapan dan sukacita bagi seluruh umat manusia, terutama yang berdosa dan tersingkirkan. Perbuatan-perbuatan yang dapat memberikan harapan ini hanya mungkin dicapai oleh kebersihan hati dan kejernihan berpikir.

Kita mungkin tidak hidup di saat-saat terbaik, tetapi kita dapat hidup di saat-saat terbaik. Kuncinya? Harapan dan sukacita. Selain kedua hal tersebut, hendaknya kita mencari sang Empunya harapan dan sukacita itu sendiri, yaitu Tuhan. Berharaplah kepada-Nya, dan nantikan waktu terbaik seturut kehendak-Nya. Jangan sampai kita salah berharap kepada individu yang melakukan aksi-aksi hebat, bukan kepada Tuhan Sang Empunya harapan dan masa depan kita. (Fr. Michael Randy)


Tuhan, hati dan pikiran kami sering diselimuti oleh kecemasan yang kami buat sendiri. Semoga Roh-Mu memenuhi jiwa kami, sehingga kami tidak terpaku pada ketidakpastian, melainkan memandang masa depan yang Engkau sediakan bagi kami dengan penuh harapan dan sukacita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.