Kelembutan Allah Hadir dalam Dunia Penuh Kekerasan

Dunia sudah keras dan kejam, orang Katolik jangan menambahi lagi. Bila Yesus hadir dalam kelembutan dalam dunia yang penuh kekerasan dan kekejaman, kita bagaimana?

RD David
Renungan Minggu Palma
Mengenang Sengsara Tuhan
Bacaan : Lukas 19:28-40; Yesaya 50:4-7; Filipi 2:6-11; Lukas 22: 14-23: 56

Dalam kunjungan ke Sudan, Bapa Suci Paus Fransiskus menggemparkan dunia dengan mencium kaki berlutut dan mencium kaki Presiden Salva Kiir. Paus mendesak Sudan Selatan untuk menjaga perdamaian dan tidak perang saudara. “Aku memintamu untuk menjaga perdamaian. Saya bertanya dengan hati saya, mari kita maju. Akan ada banyak masalah tetapi mereka tidak akan mengalahkan kita. Atasi masalah Anda,” ujar Paus Fransiskus di Vatikan seperti dilansir Reuters, Jumat (12/4/2019).

Dunia saat ini penuh dengan kekerasan : kekerasan verbal, kekerasan fisik, kebencian, intoleransi, radikalisme, teror, dan perang. Jelang Pemilu pun tindak kekerasan semakin meningkat. Yesus hadir sebagai Raja yang memasuki Yerusalem dalam kerendahan hati; naik seekor keledai. Kerendahan hati menjadi kunci utama bagi setiap orang yang mau ikut Yesus. Dunia yang keras membutuhkan kelembutan hati sebagaimana Nabi Yesaya “Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang” (Yesaya 50:5). Yesus anak Allah mengambil rupa seorang hamba untuk memasuki dunia yang keras dan kejam.

Dalam kisah sengsara yang ditampilkan Injil Lukas, Yesus menghadapi berbagai kekerasan mulai dari kekerasan verbal sampai kekerasan fisik dan berujung kematian. Hal yang paling menarik ditampilkan Yesus adalah kelembutan hati. Tidak ada dendam dan kebencian sedikitpun padahal kemalangan dan nestapa menyelimuti-Nya. Yesus meneguhkan puteri- puteri Yerusalem yang menangisi-Nya, mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya dan membawa ke Firdaus penjahat yang bertobat.

Refleksi bagi kita bersama, dunia sedang sakit, kita pun sedang sakit. Teladan Bapa Suci Paus Fransiskus dan terlebih Yesus merupakan pekerjaan berat bagi kita para pengikut Yesus saat ini. Beranikah mengambil sikap tenang dan mendoakan saat dibuat menderita oleh orang lain? Beranikah tetap berkepala dingin saat situasi panas dan memancing emosi? Bila belum mampu, kita butuh bersatu lebih dalam lagi dalam Yesus. Mari belajar agar kita dimampukan oleh Tuhan mengambil peran sebagai insan berhati lembut dalam dunia yang penuh kekerasan. Dunia sudah keras dan kejam, orang Katolik jangan menambahi lagi. Mari jadi orang Katolik yang kaya akan kelembutan hati dan miskin dalam aneka kekerasan dan kebencian.
Selamat memasuki Pekan Suci. Tuhan memberkati.
Jangan lupa rayakan pula Pesta Demokrasi dengan penuh sukacita.

Penulis : RD David


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.