Kerajaan Allah di Bumi

Kamis, 3 Oktober 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa XXVI
Bacaan 1   : Neh 8:1-4a,5-6,7b-12
Mazmur     : Mzm. 19:8-11
Injil      : Luk. 10:1-12

KITA tentu sering berdoa Doa Bapa Kami dan mengatakan ini: “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu. datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga….

Mari kita bersama-sama memperhatikan kutipan ini. Dalam kutipan ini, kita berdoa agar Kerajaan Allah hadir di atas bumi. Kita berharap agar bumi dapat mengalami apa yang dialami oleh para penghuni surga. Kita percaya bahwa Allah itu Mahabaik, maka dari itu, harmoni antara segala penghuninya dan kedamaian secara utuh itu ada di dalam kerajaan-Nya. Jika kita setiap kali berdoa Bapa Kami dan berharap agar Kerajaan Allah datang ke bumi, maukah kita bermisi untuk mewujudkan Kerajaan Allah? Maukah kita menjadi agen-agen perubahan yang membawa kedamaian bagi sesama?

Bacaan injil pada hari ini mengisahkan Yesus yang mengirim kloter misi kedua sejumlah 70 orang, setelah kloter pertama yang berjumlah 12 orang dikirim untuk mewartakan Kerajaan Allah (bdk. Luk 9:1-6). Hal ini menggambarkan bahwa perintah untuk bermisi mewartakan Kerajaan Allah tidak hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu saja, tetapi dimiliki oleh seluruh orang yang percaya kepada-Nya sebagai bagian dari rahmat baptisan yang diterima. Dengan demikian, ajakan untuk bermisi mewartakan Kerajaan Allah tidak lagi secara eksklusif milik para kaum religius maupun para katekis, tetapi milik semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

Yesus mengajak kita semua umat-Nya untuk menjalankan misi-Nya, yakni mewartakan Kerajaan Allah. Semua orang dari segala bidang hendaknya saling bahu-membahu, bergandengan tangan untuk mewartakan Kerajaan Allah di tempat kita masing-masing. Sebagai utusan langsung dari Yesus, tentu saja ada syarat dan ketentuan yang harus kita cermati agar misi pewartaan ini tidak bersifat barbar dan tetap menjaga harmoni di tempat pewartaan. Karena untuk mewartakan kabar sukacita, kita harus menjadi sumber dan pembawa sukacita itu sendiri. Jangan berubah menjadi pembawa kekacauan di lingkungan sekitar karena terlalu semangat dalam mewartakan kabar sukacita.

Jadilah pembawa damai dan sukacita untuk sesama.

(Fr. Michael Randy)


Ya Yesus, sebagaimana Engkau mengutus para rasul-Mu untuk menjadi pewarta, kami pun Engkau pilih dan Engkau utus menjadi saksi kebangkitan-Mu. Biarlah sukacita atas perintah-Mu memenuhi hati kami selama menjalani tugas perutusan ini, supaya semua orang yang melihat karya kami pun melihat dan memuji nama-Mu. Amin.

One thought on “Kerajaan Allah di Bumi

  1. Markus Lukas says:

    “Karena untuk mewartakan kabar sukacita, kita harus menjadi sumber dan pembawa sukacita itu sendiri. Jangan berubah menjadi pembawa kekacauan di lingkungan sekitar karena terlalu semangat dalam mewartakan kabar sukacita”
    Betul sekali. Ingat, kita ini orang yang diutus, bukan yang mengutus.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: