Liturgi Membosankan? Hati-hati Terjebak Profanisme

Bogor – keuskupanbogor.org: Liturgi merupakan salah satu kekayaan iman Gereja Katolik. Tidak mudah untuk memahami makna sesungguhnya dari sebuah perayaan liturgi. Ada kalanya orang merasa bosan dan tidak bersemangat dalam merayakan liturgi. Pada sisi lain variasi dalam perayaan liturgi pun hanya semacam artifisial yang hanya ingin menyalurkan selera. Lantas seperti apakah seharusnya liturgi itu dirayakan? Bagaimana dengan kecenderungan memaknai liturgi sebagai sebuah ritual yang kadang membosankan atau tidak menyentuh rasa? Baru-baru ini (14/02/2019), Paus Fransiskus menyampaikan hal penting terkait liturgi dalam Pertemuan Kongregasi Untuk Ibadat Ilahi dan Sakramen di Vatikan. 

Himbauan sadar liturgi dari sebuah gereja

1. Liturgi itu suci.

Hal pertama yang harus dipahami dan dimaknai adalah nilai dan hakikat liturgi sebagai sesuatu yang kudus. Makna kudus ini setidaknya mengandung arti waktu, tempat, benda dan pribadi yang kudus. Kudus secara sederhana diartikan sebagai “dikhususkan”, maka ada waktu yang dikhususkan, tempat yang dikhususkan, pribadi dan benda-benda yang dikhususkan. Dengan demikian menjadi sebuah permenungan bagi kita, sungguhkan kita pun merayakan liturgi dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan khusus bagi Tuhan? Minimal apakah cara berpakaian saya dalam perayaan liturgi masuk dalam kategori “mengkuduskan” atau tidak? Sungguhkah kita pun menghormati waktu “kudus” dengan datang tidak terlambat? Sungguhkah para pelayan liturgi pun mempersiapkan secara khusus sebelum melayani : persiapkan pakaian, homili, hati, dan sebagainya.

2. Liturgi disambut dengan kepatuhan.

Paus Fransiskus memberikan ketegasan dalam liturgi dengan berkata, “Kita harus menemukan kembali kenyataan liturgi dan tidak mereduksinya”. “Liturgi harus disambut dalam kepatuhan”, tegasnya. Paus mengatakan bahwa liturgi bukanlah wilayah individu, tetapi penampakan ilahi dari komunio gerejawi. Paus Fransiskus mengingatkan bahaya liturgi yang menekankan sebagian daripada keseluruhan, aku daripada umat Allah, abstrak daripada konkret, ideologi daripada komunio, dan secara mendasar yang duniawi daripada yang spiritual. Liturgi merupakan perayaan yang harus dirayakan menyeluruh. Tidak ada lagi konsep “yang penting komuni”, “yang penting homili bagus”, “koor meniadakan partisipasi umat bernyanyi”, “gak usah nyanyi deh kan udah ada koor”, “datang terlambat tanpa ikut ritus tobat, pulang lebih cepat sebelum mendapat berkat” dan masih banyak contoh lainnya yang menandai ketidaksiapan kita merayakan dan menghormati liturgi sebagai sebuah perayaan sakral yang utuh. (Bersambung)

Penulis : RD David 

Sumber : Terjemahan Teks Sambutan Paus Fransiskus dalam pertemuan Konggregasi Untuk Ibadat Ilahi dan Sakramen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.