Mampu Tapi Tak Mau

Sabtu, 14 Maret 2020
Hari biasa pekan Prapaskah II 
Bacaan I     : Mi 7:14-15. 18-20     
Bacaan Injil : Luk 15:1-3.11-32 

ISTILAH ‘mandul’ (impotensia) pasti sudah familiar bagi kita. Kali ini saya tidak membahas ‘mandul’ dalam konteks perkawinan, tetapi penggunaan kata tersebut sebagai metafora yang lazim digunakan dalam pertandingan sepak bola. Ungkapan ‘mandul’ muncul ketika seorang striker beberapa kali melakukan tendangan menuju gawang tetapi mengenai mister gawang atau tiang gawang. Maksudnya, seorang striker yang sebenarnya punya beberapa kesempatan untuk mencetak ‘gol’ tetapi malah membuahkan kegagalan berulang kali. Istilah ‘mandul’ ini saya coba sandingkan dalam permenungan hari ini, bagi kita yang sebenarnya mampu mengampuni tetapi seringkali tidak mau.

Agar sampai pada permenungan di atas, mari kita tinjau kembali Injil hari ini. Lukas 15 merupakan rangkaian perumpamaan, dan salah satu yang paling terkenal adalah perumpamaan mengenai anak yang hilang. Kisah ini menjadi pandangan klasik yang merupakan sintesis dari kisah Yakub dan Esau (Kej 33:4). Dalam tradisi Yahudi, anak sulung berhak menerima warisan ganda (Ul 21:17). Menjadi peristiwa yang menarik karena dalam perumpamaan ini justru anak bungsu yang meminta, ditambah lagi karena pembagian warisan umumnya terjadi ketika kematian orang tua (tepatnya seorang ayah).

Titik balik mulai terjadi ketika si bungsu berfoya-foya dan kehilangan orientasi setelah seluruh hartanya habis. Bencana kelaparan melandanya, dan bagi orang Ibrani, menjaga babi berarti sebuah kemurtadan. Murtad dalam hal ini adalah menjauhkan diri dari anggota keluarga dan umat Allah. Peristiwa yang paling penting dalam kisah ini adalah pertobatan si bungsu. Figur ayah menjadi representasi Allah Bapa yang Maha Kasih dan penuh pengampunan (bdk Kej 45:28).

Saya pun mencoba berefleksi terhadap ketiga figur yang diceritakan dalam perumpamaan ini. Dalam pengalaman hidup di dunia ini, figur siapakah yang paling dominan dalam diri kita? Apakah si bungsu? Apakah seperti sang Ayah? Atau bahkan seperti anak sulung? Mungkinkah ketiganya ada dalam diri kita?

Saudara-saudari yang terkasih, mengampuni memang bukan hal yang mudah. Kesadaran bahwa kita sendiri pun sering berbuat salah akan membantu mengentaskan kekhawatiran kita dalam mengampuni. Bila kita tidak menyadarinya secara terbuka, maka akan sulit juga bagi kita untuk membuka pintu pengampunan itu. Kunci untuk mengampuni adalah kerendahan hari (bdk Ef 4:2, 1Ptr 3:8). Ingatlah bahwa seringkali yang terjadi adalah kita mampu mengampuni, tapi tidak mau. Entah karena gengsi, rasa sakit hati yang terlampau mendalam, atau bahkan trauma tertentu.

Apapun yang membelenggu kita dari kemauan untuk mengampuni, tetaplah berpegang pada doa, sebab doa mendatangkan ketenangan (Mat 11:29). Ketenangan dan hening akan menuntun saudara dan saudari pada kesadaran terdalam bahwa Allah telah lebih dulu memberi pengampunan-Nya di atas salib dengan berkata, “Ya Bapa, Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

[Fr. Petrus Damianus Kuntoro]


Allah yang maharahim, sungguh luas samudera pengampunan-Mu bagi kami yang penuh dosa dan kelemahan. Oleh karena kasih setia-Mu ya Bapa, jadilah Gembala yang menuntun kami untuk selalu teguh berjalan di jalan-Mu, bahkan di masa-masa yang paling sulit sekali pun. Sebab Engkaulah Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.