Mau Jadi Hamba Siapa?

Rabu, 23 Oktober 2019
Pekan biasa XXVIX
Bacaan I : Rm. 6: 12-28
Mazmur   : Mzm 124: 1-3.4-6.7-8
Injil    : Luk. 12: 39-48

DALAM hidup, kita selalu dihadapkan oleh berbagai pilihan. Mulai dari pilihan sepele, seperti mau makan apa? Pakai baju apa? Hingga pilihan yang menyangkut perjalanan hidup, seperti mau kerja di mana? Memilih siapa menjadi pasangan? Ingin bersikap apa ketika ada masalah? Kita dituntut memilih sedikit atau bahkan satu pilihan dari sekian banyak pilihan. Banyak pertimbangan yang kita gunakan untuk memilih, mulai dari subjektivitas pribadi, pertimbangan ke masa depan, usulan orang-orang, dan sebagainya.

Dalam bacaan pertama pada hari ini, Rasul Paulus menjelaskan dua pilihan penting dalam hidup, yakni hendak menjadi hamba dosa atau hamba kemerdekaan. Menjadi hamba berarti tunduk sepenuhnya untuk taat kepada si tuan. Tuan dari hamba dosa adalah si jahat yang menjerumuskan manusia kepada dosa-dosa, sedangkan tuan dari hamba kemerdekaan adalah Allah sendiri yang memberikan kehidupan kepada manusia. Dalam Injil hari ini pun, Yesus memberi perumpaan tentang hamba yang waspada. Hamba tersebut melakukan tugas ketika tuannya datang dan mempunyai sikap baik, sehingga kelak diangkat menjadi pengawas harta si tuan.

Sebagai murid-murid Yesus, jika dihadapkan pada pilihan yang dijelaskan Rasul Paulus, pastinya kita ingin memilih menjadi hamba kemerdekaan. Allah pun berkehendak agar kita menjadi hamba kemerdekaan, yang dekat dengan-Nya, bukan sebaliknya: menjauhi-Nya dan menjadi hamba dosa. Persoalannya adalah ketika sedang berusaha menjadi hamba kemerdekaan, kita kurang waspada terhadap hal-hal yang dapat menggerogoti iman kita. Kekecewaan, kegagalan, keputusasaan, atau kesedihan yang berlarut-larut dapat melemahkan iman kita. Mungkin kita merasa seolah beban seisi dunia ditimpakan ke atas bahu kita, dan akhirnya lupa akan campur tangan Allah dalam hidup kita. Kita kurang sadar akan kehadiran Allah, sehingga rasa waspada terhadap hal-hal baik dan buruk menjadi berkurang.

Membangun relasi dengan Allah lewat doa-doa dan devosi menjadi salah satu cara untuk menjadi  hamba kemerdekaan. Usaha menjadi hamba kemerdekaan bukanlah usaha murni 100% dari manusia, tetapi ada campur tangan Allah di dalamnya. Allah yang mencintai kita terlebih dahulu, ingin agar kita dekat dengannya sehingga mempunyai hidup bahagia yang sejati, bukannya terperosok dalam jurang kedosaan bersama setan. Semoga dengan niat dan tekad yang kuat, kita dapat menjadi hamba kemerdekaan yang waspada akan kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Allah yang berbelas kasih, kami bersyukur bahwa melalui Yesus Putra-Mu, kami telah dibebaskan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Dalam membuat keputusan dan pilihan dalam hidup kami, semoga kami pun selalu berpegang pada kebenaran yang berasal dari-Mu, sebab hidup kami adalah milik-Mu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.