Membuka Hati

  • Sabtu, 15 Februari 2020 
  • Hari Biasa, Pekan Biasa IV 
  • Bacaan I : 1 Raj 12:26-32;13:33-34                                                   
  •  Bacaan Injil : Mrk 8:1-10        

            Saat kunjungan pastoral ke beberapa rumah umat yang tidak berkecukupan, saya merasa keluarga tersebut merasa terharu sekaligus senang. keluarga tersebut bercerita bahwa sehari-harinya sibuk untuk memenuhi makan. Pekerjaan yang diselesaikan satu hari kadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu saja.

            Saudara-saudari yang terkasih, kebutuhan manusia terbagi menjadi dua; kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani. Dalam hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow ada klasifikasi mengenai hal ini. Maslow menggambarkan hirarkinya dalam bentuk pyramid. Ada 5 tahap, yakni; kebutuhan fisiologis mencakup kebutuhan-kebutuhan seperti bernafas, makan, minum, tidur, dll; berikutnya kebutuhan rasa aman dan perlindungan mencakup keamanan, keteraturan, stabilitas dan lain-lain; berikutnya kebutuhan sosial mencakup afeksi, relasi dan keluarga; berikutnya kebutuhan akan penghargaan mencakup status, pencapaian dan kepedulian kepada sesama; berikutnya kebutuhan akan aktualisasi diri mencakup moral, kreatifitas, problem solving,dll. Kebutuhan-kebutuhan diatas sangat manusiawi, Sedangkan dalam hal rohani Santo Bonaventura mengungkapkan dalam bukunya The Journey of the Soul Into God bahwa setiap manusia memiliki kerinduan(desiderium) jiwa menuju dengan pada Allah. Kebutuhan ini yang nantinya menuntun manusia untuk memenuhi tahap demi tahap yang Santo Bonaventura mengumpamakan dengan 7 sayap seraphim terbentang. Tujuh tahap menjadi pedoman bahwa setiap manusia mencari kebahagiaan (beatitude), dan hanya Allah kebahagiaan tertinggi (summum Bonum) itu.

            Permenungan diatas sekiranya dapat menuntun saudara-saudari yang terkasih pada bacaan hari ini mengenai gerak belas kasih Allah yang ditampilkan oleh Yesus Kristus melihat pada pengikut-Nya kelaparan. Dalam bacaan ini manusia tidak berdaya mendatangkan kebahagiaan tertinggi, karena inisiatif manusia adalah membuka hati untuk menerima anugerah itu. Sebab, bukan jiwa yang puas melainkan jiwa yang haus mendambakan mata air segar.

            Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kedua kebutuhan ini baik adanya; amat bergantung kepada siapa yang menerapkannya. Dalam kisah bacaan pertama Yerobeam salah mengartikan kebutuhan manusia dengan mengesampingkan tradisi atau budaya yang ada. Membuat anak sapi dari emas untuk disembah (ay 28; bdk kel 32), ia membangun kuil-kuil di bukit-bukit pengurbanan(ay 31), menabiskan imam bukan dari keturunan lewi( bdk kel 28 dst), sewenang-wenang menetapkan pesta peziarahan(ay 32).

            Dalam kisah kunjungan pastoral, bagaimana sebuah keluarga dapat pemenuhan rohani apabila setiap hari dihabiskan demi memenuhi kebutuhan jasmani. Yesus merasa kedua hal ini penting, sebelum Yesus menyampaikan ajaran-ajarannya terlebih dahulu para pengikutNya diberi makan agar logika berjalan. Tindakan Yesus sekiranya menjadi inspirasi kita sebagai orang Kristiani yang merupakan perpanjangan tangan Yesus (in persona Christi). Membantu mereka yang kekurangan karena kita dilebihkan. Logika jalan bila logistik terpenuhi. Sehingga saudara-saudari yang terkasih, sampai pada tahap manakah anda memahami kebutuhan? Apakah selama ini kebutuhan jasmani lebih besar dari pada rohani atau mungkin sebaliknya? Mari saudara kita seimbangkan dan siap sedia membuka hati untuk rahmat yang besar dari Allah. Tuhan Memberkati –Frater Petrus Damianus Kuntoro-

Tuhan Yesus, terkadang kami dikaburkan dengan berbagai hal duniawi, sehingga tak mampu memenuhi kebutuhan rohani. bantulah agar kami semakin fokus dalam memahami dan menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani kami. Amin

Membuka Hati

Senin, 16 Desember 2019
Hari Biasa, Pekan Adven III
Bacaan I     :  Bilangan 24: 2-7.15-17a
Bacaan Injil : Matius 21:23-27

SETIAP orang yang memiliki penglihatan normal pastilah dapat melihat. Hal ini terjadi karena bola mata menangkap setiap pantulan cahaya dari benda-benda yang ada. Namun, jika kita menutup mata kita tidak akan bisa melihat apa yang ada di sekitar kita karena cahaya tidak dapat masuk ke dalam bola mata kita. Ketika kita membuka mata, maka cahaya akan masuk, dan pantulan-pantulan cahaya dari benda-benda di sekitar kita pun membuat kita dapat melihat apa yang ada di hadapan kita.

Tokoh Yohanes Pembaptis memiliki peran yang signifikan untuk mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias. Hubungan antara dari semula pemberitaan injil sudah terkait amat erat. Kesaksian Yohanes sungguhlah menyiapkan jalan untuk Tuhan. Oleh sebab itu, kehadiran Yohanes tidak dapat disangkal.

Pertanyaan yang diungkap imam-imam kepala kepada Yesus adalah pertanyaan untuk mencobai, namun Yesus justru balik bertanya kepada imam-iman itu sebagai bentuk keterbukaan akan kehadiran-Nya yang adalah dari Allah. Dan pertanyaan yang diberikan Yesus itu menuntut suatu keterbukaan pada rencana Allah yang selalu berhubungan satu sama lain, utamanya terkait dengan kehadiran Yohanes. Namun nampaknya, para imam tidak memiliki keyakinan itu dan hatinya masih tertutup dengan rencana Allah.  Terang kemulian Tuhan yang sudah dimulai dari kesaksian Yohanes dan terjadi dalam diri Yesus pun tidak dapat mereka lihat.

Jawaban yang diberikan Tuhan atas segala pengalaman hidup kita menuntut kemauan kita untuk membuka hati terhadap rencana-Nya. Tuhan selalu mendengar dan menjawab doa kita, tinggal bagaimana kita menyadarinya, meyakininya dan membuka hati kita untuk menerima segala bentuk jawaban Tuhan. Namun jika hati kita tertutup, tidak mau percaya kepada kekuasaan Tuhan dan rencana-Nya yang agung, maka proses dialog  dengan Tuhan pun akan sulit untuk kita tangkap. Kita memandang doa-doa kita hanya satu arah, padahal dari awal Tuhan sudah berusaha menjawabnya. Sehingga akhirnya kita pun yang kita dengar hanyalah “Aku pun tidak mau mengatakan kepada kalian….”

[Fr. Albertus Aris Bangkit Sihotang]


Allah yang berbelas kasih, Engkau selalu menyatakan diri-Mu kepada kami lewat berbagai cara. Bantulah kami untuk selalu mau terbuka pada rancangan-rancangan mulia-Mu, meski pikiran kami yang terbatas ini terkadang tidak mampu memahaminya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.