Menjadi Pewarta Kebaikan

Jumat, 27 September 2019
PW St Vinsensius a Paulo
Bacaan I : Hagai 2:1b-10
Mazmur   : 43:1.2.3.4
Lukas    : 9:18-22

SAUDARA-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini Gereja memperingati peringatan wajib Santo Vinsensius a Paulo, Imam. Santo ini terkenal sebagai rasul cinta kasih bagi kaum miskin dan penghibur orang-orang sakit. Ia seorang yang cerdas dan beriman. Semasa hidupnya dan ketika telah ditahbiskan menjadi seorang imam, Vinsensius melakukan karya pelayanan seperti mengajar dan memberikan bimbingan rohani kepada para petani. Ia juga memperhatikan orang miskin dan yang sakit.

Melihat teladan Santo Vinsensius a Paulo, kita sebagai umat beriman boleh merasa dan berkata dalam hati,apakah rasa belas kasih yang kita berikan kepada sesama kita sudah didasari dengan ketulusan? Atau apakah jangan-jangan kita jarang mengasihi sesama kita, apalagi mereka yang membutuhkan? Pertanyaan ini mendasar, karena untuk itulah kita diutus sebagai seorang beriman Katolik yang mewartakan kebaikan Tuhan di mana-mana dan kepada siapa saja.

Dalam bacaan hari ini pun, melalui nubuat Hagai, Allah menunjukkan bahwa untuk berbuat dan memberikan kebaikan tidaklah butuh banyak pertimbangan. Dalam arti, semua yang telah dihasilkan pun akan ada saatnya berkurang, entah itu kualitas maupun kuantitasnya. Tetapi, kebaikan akan tetap bertahan. Hingga pada saatnya kita mencapai hidup yang kekal pun, kebaikan itu tetap ada.

Terkait dengan hal tersebut, Yesus yang adalah Kristus dari Allah juga mengajarkan bahwa kebaikan bukan sarana pamer agar dilihat orang lain. Kebaikan merupakan anugerah dari Allah. Manusia mendapat tugas untuk meneruskan kebaikan itu di mana-mana sehingga aliran kebaikan itu tidak berhenti, seperti Ia yang tidak pernah berhenti berbuat baik untuk kita. Oleh karena itu, kasih itu tercermin dari perbuatan baik dan bagaimana cara kita melakukannya.

Untuk berbuat baik, kita perlu membebaskan diri dari belenggu pertimbangan mengenai dampak dari perbuatan tersebut, misalnya ‘apakah kontribusi saya ini terlalu kecil?’, atau ‘apakah pertolongan saya ini bisa berdampak baik bagi yang saya bantu?’. Karena niat baik yang muncul dengan penuh ketulusan, dan perbuatan itu sendiri pun sudah menunjukkan berkat Tuhan yang senantiasa menyertai kita.  (Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara)


Yesus Tuhan kami, seringkali kami ragu berbuat baik karena takut bahwa pemberian kami tidak cukup, atau kami tidak punya kemampuan untuk melakukannya. Semoga dengan teladan St Vinsensius a Paulo, kami semakin berani untuk menjadi saluran cinta kasih-Mu bagi sesama kami. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: