Menjadi Yakin

Kamis, 19 September 2019 
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV
Bacaan 1  : 1Tim. 4:12-16
Mazmur    : Mzm. 111:7-8,9,10
Injil     : Luk. 7:36-50

YAKIN adalah tingkatan tertinggi dan sempurna dari ilmu, yaitu kekuatan dalam ilmu yang di bangun diatas dalil yang benar dan pemahaman yang tepat. Keyakinan diri dibutuhkan dalam setiap langkah karier dan kehidupan: mengajukan beasiswa, mengerjakan ujian tengah semester dan akhir semester, wawancara pekerjaan, menawarkan produk atau bisnis, mengajukan pinjaman dan segala hal yang berhubungan dengan orang lain. Sebaliknya, ketidakyakinan diri pasti berakibat pada kekhawatiran, ketakutan, dan keengganan bertindak. Seolah berdiam diri tidak berisiko pun.

Tidak ada keyakinan diri yang semu. Penampilan yang luar bisa dapat dipelajari dan dilatih, namun jika menyangkut keyakinan, hanya diri kita sendiri yang tahu. Orang tanpa keyakinan cenderung takut salah dan dipersalahkan. Sehingga mereka dapat berkeluh-kesah sepuluh kali lebih banyak daripada orang normal mengenai apapun. Hal ini tidak dibatasi oleh hal-hal yang terlihat, terutama usia. Seperti yang tertulis dalam bacaan pertama, hendaknya jangan memandang rendah seseorang yang lebih muda. Bisa jadi orang yang dipandang rendah ini memiliki nilai dan yang diyakini dengan teguh dibandingkan orang-orang yang dianggap lebih terhormat.

Esensi dari keyakinan tidak diawali dari langkah gagah, suara lantang, jabatan tinggi, atau uang berlimpah. Keyakinan diri berawal dari keheningan pikiran dan kejernihan hati dalam memilih hal untuk diyakini. Keyakinan ini pula yang menggerakkan wanita berdosa yang dipandang rendah oleh orang Farisi itu untuk datang kepada Yesus dengan membawa minyak mahal, membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Ia juga mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Gestur meminta ampun kepada Tuhan ini mengandung iman yang besar, sehingga iman dari wanita itulah yang menyelamatkan dirinya.

Tidak ada manusia yang langsung tahu akan segalanya. Seringkali kita lupa bahwa mungkin kepandaian kita belum ada apa-apanya dibanding seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini. Punya keyakinan diri artinya menghargai pilihan-pilihan yang dibuat sendiri. Mengapa harus ragu? Mengapa harus bimbang? Mengapa harus bersusah payah menjadi orang lain agar dihormati? Mengapa harus fokus menjadi keren seperti orang lain? Pandanglah Yesus dan arahkan seluruh keputusan dan tindakan kita kepada apa yang diajarkanNya.

Apakah hari ini Anda sudah beraktivitas dengan penuh keyakinan pada Tuhan? (Fr Michael Randy)


Tuhan, bantulah kami sepanjang hari ini untuk menjaga tingkah laku dan perkataan kami supaya selalu selaras dengan iman kami kepadaMu. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: