Miskin dan Kaya di Hadapan Allah

Rabu, 11 September 2019, Pekan Biasa XXIII
Bacaan I : Kol. 3: 1-11
Mazmur   : Mzm. 145:2-3.10-11.12-13ab
Injil    : Luk. 6:20-26

SUATU hari, ada seorang pemuda yang pandai dan terampil di sebuah sekolah. Ia selalu mendapat nilai tinggi dalam semua mata pelajaran. Berbagai keterampilan dan ekstrakurikuler pun dengan mudah dipelajarinya. Akan tetapi, salah satu kelemahannya adalah tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merupakan tipe orang yang suka menyendiri dan bekerja sendiri. Dengan segala kemampuannya, ia yakin dapat sukses dalam segala hal. Hingga pada suatu hari, seorang guru memberi tugas kelompok. Teman-temannya tidak ada yang ingin sekelompok dengan pemuda tersebut. Ia tidak menghiraukan dan tetap mengerjakan tugas itu sendiri. Pada akhirnya, tugas si pemuda tersebut tidak mendapat nilai karena tidak sesuai dengan instruksi guru.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kaya-miskin. Yesus secara tegas membandingkan antara miskin dan kaya. Yang miskin akan berbahagia karena mempunyai Kerajaan Allah, sedangkan yang kaya akan celaka karena telah memperoleh hiburan sebelumnya. Yesus menyangkutpautkan hal ini dengan akhir zaman, bahwa orang miskin karena menderita selama hidupnya di dunia akan bahagia pada akhir zaman. Sebaliknya, orang kaya, karena sudah bahagia selama hidupnya di dunia, akan menderita pada akhir zaman.

Pernyataan Yesus tidak berarti bahwa Ia membenci orang kaya dan hanya berpihak pada orang miskin. Tentunya tidak salah ketika orang menjadi kaya dengan usahanya sendiri yang jujur, dan justru menjadi salah, ketika orang menjadi miskin karena malas. Akan tetapi, perkataan Yesus tentang miskin dan kaya bukan soal benar dan salah, dan bukan juga soal materi. Jika hanya soal materi, maka soal miskin dan kaya bersifat relatif; tergantung dari sudut pandang apa dan dibandingkan dengan siapa. Orang yang memiliki sebuah mobil dianggap lebih kaya daripada orang yang memiliki motor, namun dapat dianggap juga lebih miskin daripada orang yang memiliki banyak mobil mewah.

Lebih dari itu, soal miskin dan kaya adalah soal hati yang terbuka pada belas kasih Allah. Orang miskin yang dimaksud Yesus adalah orang yang selalu menantikan dan berharap akan belas kasih Allah, sehingga berpegang teguh pada Allah. Di sisi lain, orang kaya adalah orang yang sudah merasa cukup akan segala hal sehingga tidak menantikan apa-apa, termasuk tidak berharap akan belas kasih Allah.

Sama seperti kisah di atas, si pemuda merasa sudah hebat dalam segala hal sehingga menjadi sombong dan yakin dapat mengerjakan semua hal tanpa bantuan orang lain. Singkat kata, orang miskin adalah orang yang selalu membutuhkan rahmat Allah dalam setiap langkah hidupnya, sedangkan orang kaya adalah orang yang sombong dan congkak karena merasa dirinya sudah memiliki segala hal, sehingga tidak membutuhkan Allah lagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, situasi miskin-kaya menjadi pilihan bagi kita. Situasi miskin-kaya tidak hanya menyangkut akhir zaman. Segala usaha dan kegiatan kita di dunia ini pun menjadi sarana untuk mendapatkan rahmat Allah. Rahmat Allah dapat memiliki banyak bentuk, dan selalu cukup bagi kita.

Sekarang, dengan situasi kondisi hidup saat ini kita dapat bertanya pada diri sendiri bagaimana sikap hati kita kepada Allah. Apakah kita sudah terbuka akan belas kasih Allah? Apakah kita masih keras kepala dan memaksakan kehendak pribadi? Semoga kita dapat merasa miskin di hadapan Allah, lalu semakin dapat membuka hati kepada Allah dalam doa-doa dan kegiatan kita. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Bapa yang baik, kami bersyukur bahwa Engkau selalu memelihara hidup dan mendampingi kami dalam setiap situasi. Bukalah hati kami agar selalu menggantungkan harapan hanya padaMu dan bukan kemampuan diri kami sendiri. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.