Pandemi Corona, Suatu Kesempatan

DAMPAK virus Corona yang sangat jelas dan langsung mengena pada Umat beriman Katolik adalah ditiadakannya Perayaan Ekaristi dan kegiatan gerejawi lain yang mengandaikan kehadiran banyak orang. Karena kenyataan itu, kebanyakan orang menjadi shocked dan stressed.

Terungkaplah segera dari mereka, umumnya kata-kata, sikap, dan tindakan yang melawan, menghujat, dan marah terhadap virus itu. Menarik untuk diperhatikan, bahwa ternyata dari sekian banyak ungkapan yang negatif itu, ada juga yang bernada menerima. Ungkapan itu berupa ajakan berdoa, yang isinya bukan memaksa Tuhan menghentikan virus itu, tetapi mohon agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus sehingga kita dapat menemukan sesuatu yang baik di balik peristiwa yang tidak menyenangkan ini.

Berikut ini disampaikan beberapa hal yang sepertinya kita agak melupakannya dan sekarang sebaiknya kita menemukannya lagi. Atau, kalau belum pernah kita mendapatkannya, saatnya sekarang kita menemukannya. Lebih lanjut, saat ini dapat juga menjadi bagi kita kesempatan untuk memperdalam maknanya.

Ekaristi bukan obyek tetapi terutama tindakan. Umumnya kita berkata: mendapatkan pelayanan misa, ikut misa, mendapat komuni, mengambil komuni. Padahal, kata Ekaristi itu berarti mengucap syukur. Lengkapnya, mengucap syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus. Suatu tindakan. Suatu aksi. Dengan pengertian itu, tampaklah pada kita bahwa ada hal lain yang juga penting selalin mendapatkan pelayanan misa dan mendapatkan komuni. Kita mesti bersyukur. Untuk itu, mari kita temukan berbagai bentuk atau cara lain untuk mengucap syukur kepada Tuhan melalui Yesus Kristus itu juga.

Tuhan tidak hanya di gereja. Orang pagan (tidak percaya kepada Tuhan) meyakini bahwa dewa mereka tinggal atau diam di kuil. Sebagai orang katolik, kita percaya bahwa Tuhan dapat hadir di mana-mana. Untuk kebenaran itu, ada yang menyatakan dengan lugas bahwa Tuhan tidak hanya di altar, tetapi juga di pasar. Karena itu, Tuhan dapat ditemukan dan ditemui di tempat yang bukan gereja, bukan di gunung tertentu, dan bahkan bukan di Yerusalem (bdk. Yoh 4, 21-24).

Kehadiran Tuhan tidak menuntut kerumunan banyak orang. Tentu saja sangat menyenangkan apabila suatu acara keagamaan atau perayaan iman dihadiri banyak orang. Sangat mungkin dalam himpunan besar orang itu timbul dalam hati dan pikiran kita suatu kebanggaan, perasaan superior, atau sejenisnya. Tanpa kita sadari, ketidakhadiran banyak orang membuat kita ciut hati, inferior, dan bukan siapa-siapa. Kita lupa bahwa Tuhan pernah bersabda bahwa di mana ada dua atau tiga orang yang berkumpul atas nama-Nya, Tuhan hadir di situ (Mt 18, 20).

Tuhan hadir ketika Ia dibicarakan. Kita mengatakannya dalam bahasa umum dengan frasa sharing iman. Pada saat itu dibicarakan siapa Tuhan dan bagaimana Ia bercampur tangan dalam hidup kita. Dari masa para Rasul telah diyakini dan diajarkan oleh Gereja bahwa ketika Tuhan dibicarakan, Ia hadir di situ (Didache 4, 1).

Berdoa di kamar. Dengan keras Yesus mengritik orang munafik yang suka berdoa di rumah-rumah ibadat dan di jalan umum sehingga dilihat oleh orang banyak. Dengan begitu mereka telah mendapatkan upahnya. Yesus menghendaki agar kita berdoa dengan masuk kamar (di rumah), di tempat tersembunyi. Justru apabila kita berdoa di tempat yang seperti itu, Allah akan memperhatikannya (Mt 6, 5-6).

Ekaristi pusat dan puncak kehidupan kristiani. Ini benar. Namun, yang mesti kita sadari adalah kenyataan bahwa sekalipun pusat dan puncak, itu hanyalah bagian dari keseluruhan. Pusat dan puncak itu bukan segala-galanya. Ada bagian lain yang kita sebut pinggir dan dasar. Apabila saat ini kita tidak dapat melakukan bagian yang adalah pusat dan puncak, sekurang-kurangnya kita masih dapat melakukan bagian lain yang merupakan pinggir dan dasar. Termasuk bagian pinggir dan dasar itu di antaranya adalah: doa-doa, praktik kesalehan, perbuatan tobat, dan amal kasih. Dengan itu, kita tidak hanya memusatkan seluruh diri kita pada bagian tertentu, tetapi juga berusaha membangun bagian-bagian lain yang juga tidak kalah penting.

Albert Einstein pernah berkata, “Ilmu tanpa agama adalah pincang; agama tanpa ilmu adalah buta.” Semoga dengan keadaan sulit ini, kita siap belajar atau menggali ilmu sehingga hidup keimanan kita menjadi lebih terang dan tidak sulit menemukan jalan atau arah kepada tujuan yang sebenarnya. Sekurang-kurangnya, kita tidak terus berhenti pada keadaan shocked dan stressed, tetapi berangsur-angsur menjadi surprised dan berakhir dengan joy.

Bogor, 25 Maret 2020

RD. Yohanes Driyanto   

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: