Peletakan Batu Pertama Rumah Retret: Membangun Rumah di Atas Batu yang Kuat

Parung – keuskupanbogor.org: Rabu (9/1/2019) di bawah panasnya sinar matahari di Talaga Kahuripan Parung, Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, para imam, serta para tamu undangan berkumpul di bawah naungan tenda biru. Bersama-sama, mereka mengawali acara peresmian dengan ibadat syukur sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah pembinaan iman/Rumah Retret.

Dalam homilinya, Mgr. Paskalis Bruno Syukur menjelaskan bahwa saat ini Keuskupan Bogor sedang membangun rumah di atas batu yang dasarnya kuat, bukan di atas pasir. Hal ini merupakan praktik nyata dari perumpamaan mengenai orang yang datang kepada Tuhan, mendengarkan Firman Tuhan, dan melakukannya (Mat 7:26). “Sejarah Keuskupan Bogor itu merupakan sejarah di mana Allah mau berbicara kepada kita, dan kami menanggapi bahwa Allah berbicara kepada kita agar Keuskupan ini bertumbuh dan berkembang”, ujar Mgr Paskalis.

Proyek pembangunan Seminari Menengah Stella Maris, Rumah Kasih UNIO, dan Rumah Retret Keuskupan Bogor ini telah dimulai sejak tahun 2016. Setelah mendapat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pada November 2016, Keuskupan Bogor memulai pemasangan 600 tiang pancang pada Februari 2017, pembangunan seminari pada November 2017, dan pembangunan Rumah Kasih UNIO pada Mei 2018. Baik pembangunan seminari maupun Rumah Kasih UNIO masih berjalan hingga saat ini. Pembangunan ketiga proyek ini diharapkan rampung pada 2020. Oleh karena itu, doa dari seluruh umat serta bantuan dari para donatur juga sangat diharapkan dalam penyelesaiannya.

Komitmen bersama

Tuhan menghendaki para imam untuk mengenangkan kurban-Nya melalui Ekaristi, mewartakan, dan menyerahkan hidupnya seperti Yesus sendiri. Untuk menjadi imam, seseorang harus menjalani tahapan formasi yang baik. Untuk menunjang formasi yang baik tersebut, diperlukan maka dibangunlah Rumah Seminari.Dari Seminari Stella Maris, Keuskupan Bogor akan mendidik orang-orang secara khusus untuk menjadi imam; meneruskan apa yang dikehendaki Tuhan dalam Injil. Begitu juga dengan Rumah kasih UNIO. Di rumah ini, para imam dapat istirahat bersama, dan untuk terus-menerus meningkatkan kualitas dirinya hingga tua kelak. Rumah Kasih UNIO merupakan sarana formasi lanjutan dari seminari, di mana para imam menjaga hidup imamatnya hingga mereka kembali ke rumah Tuhan.

“Mudah-mudahan dari seminari akan menghasilkan orang-orang yang luar biasa imannya akan Tuhan Yesus Kristus, luar biasa pelayanan bagi umat sekalian, dan luar biasa cintanya akan Gereja Katolik. Ini akan menjadi tantangan juga bagi para formatores yang akan ditempatkan di sana kelak. Mudah-mudahan kita juga tidak menjadi ragu-ragu dengan maintenance-nya, kita harus siap jalankan,” ujar Bapa Uskup.

Rumah Retret pun tak kalah penting, karena umat Keuskupan Bogor perlu dibina dan dididik agar selalu berjalan beriringan dengan visi para gembalanya. Maka, Rumah Retret ini disapkan agar orang yang percaya kepada Tuhan itu, benar-benar percaya dan mengikuti, serta dapat membangun hidup atas dasar iman yang kuat. Dalam kesempatan ini, Pastor Ridwan Amo menjelaskan bahwa Rumah Retret ini nantinya akan menyediakan 100 kamar yang dapat menampung 400 orang. Di area Rumah Retret ini akan ada aula besar, gazebo, dan ruang makan. Rumah Retret ini juga akan dilengkapi dengan lift, maka sangat cocok untuk memfasilitasi umat dari segala umur.

Acara peletakan batu pertama Rumah Retret ini diawali dengan peninjauan situs ketiga proyek dan ibadat syukur, dilanjutkan dengan penyerahan IMB untuk Rumah Retret, dan seremonial pemukulan batu pancang oleh Bapa Uskup dan Bapak Dedi. Dengan seluruh prosesi tersebut, hari ini Keuskupan Bogor resmi menorehkan sejarah yang memantapkan komitmen pembangunan proyek ini. Semoga pembangunan ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan membawa berkat bagi seluruh elemen Keuskupan Bogor.

“Mari kita berjalan bersama dalam Gereja yang kita cintai bersama. Gereja kita punya kelemahan dan punya kelebihan juga, maka kita jangan pernah putus asa, cemas atas kekurangan-kekurangan Gereja kita. Sebaliknya, kita lihat hal-hal positif yang diminta Tuhan agar kita menjadi pembawa kabar baik bagi sesama kita”, ajak Bapa Uskup kepada para umat. (Aureliarani/MEKAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.