Pencitraan

Kamis, 24 Oktober 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIX
Bacaan 1 : Rm. 6:19-23
Mazmur   : Mzm. 1:1-2,3,4,6
Injil    : Luk. 12:49-53

AKHIR-akhir ini, kita sungguh familiar dengan kata pencitraan. Pencitraan berasal dari kata dasar citra yang berarti gambaran. Pencitraan identik dengan gambaran baik yang seolah dibuat-buat. Perbuatan baik itu seakan-akan hanya merupakan gimmick untuk mendapatkan simpati dan perhatian. Suka tidak suka, banyak orang memang cenderung selalu ingin menjadi pusat perhatian. Barang yang dimiliki, pakaian yang digunakan, gadget yang dibeli, hanya direduksi sebagai objek tontonan yang diharapkan dapat meninggalkan kesan yang baik.

Imbas negatif dari perilaku semacam ini adalah orang melakukan sesuatu hanya untuk ditonton banyak orang. Ia kehilangan motivasi yang benar-benar tulus dari dirinya sendiri. Seakan-akan berbuat baik dengan tulus itu merupakan sebuah perjuangan dan perlawanan kepada masyarakat yang telah lama terbuai dengan aneka gimmick.

Bacaan Injil pada hari ini seolah memberikan kesan bahwa Yesus datang membawa perpecahan ketika kita percaya bahwa Ia adalah Juru Selamat. Tetapi, sesungguhnya Yesus ingin menekankan bahwa kita tidak perlu takut untuk menjadi pengikut-Nya, bahkan jika itu menjadikan kita berbeda dari masyarakat. Jangan takut untuk menyuarakan kebenaran bahwa Yesus adalah Sang Juru Selamat di mana pun kita berada. Dan yang terpenting, jangan pernah ragu untuk berbuat kebaikan, bahkan jika hal itu hanya dianggap pencitraan semata.

Santo Paulus dalam bacaan pertama menegaskan bahwa buah yang diterima sebagai orang beriman adalah buah yang membawa kepada pengudusan dan hidup kekal. Perbuatan baik nan tulus yang terpancar dari dalam diri mencerminkan kualitas karakter orang tersebut. Jangan takut untuk menjadi beda dari dunia. Tetaplah mewartakan Kerajaan Allah lewat perbuatan baik yang didorong oleh ketulusan.

Hendaknya kita juga senantiasa berefleksi untuk memurnikan motivasi dalam bermisi. Apakah misi yang saya lakukan ini sungguh-sungguh merupakan buah dari panggilan saya sebagai orang yang dibaptis? Apakah saya benar-benar tulus atau hanya ingin mendapatkan citra yang baik di masyarakat? Semoga di tengah serbuan kebahagiaan semu yang ditawarkan dunia, kita tetap berani untuk mewartakan kebenaran melalui tindakan kasih kita. (Fr. Michael Randy)


Ya Yesus, ketika dunia menawarkan ketenaran dan kegembiraan yang semu, semoga kami tetap teguh berpegang pada Firman-Mu. Biarlah hidup kami selalu menjadi pancaran cahaya kasih-Mu meski itu berarti kami harus dimusuhi dunia. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.