Penghibur dan Pendamping

Selasa, 19 Mei 2020

Hari Biasa Pekan Paskah VI

Bacaan I          : Kis. 16: 22-34

Bacaan Injil     : Yoh. 16: 5-11

 

No Man is an island merupakan istilah yang cukup popular. Istilah itu ingin mengatakan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup di pulau sendirian. Dengan kata lain manusia adalah homo socius. Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Manusia membutuhkan orang lain agar kebutuhannya terpenuhi. Kebutuhan mendapat perhatian, kebutuhan mendapat kasih sayang, kebutuhan mendapat relasi, dan lain sebagainya. Rasanya tidak ada manusia yang secara harafiah hidup sendiri tanpa adanya orang lain. Atau tidak harus dengan manusia, hidup berdampingan dengan yang lain seperti tumbuhan dan hewan saja rasanya menjadi bukti bahwa manusia bukanlah makhluk yang bisa hidup seorang diri. Dari kebutuhan pokok saja tentu membutuhkan yang di luar dari dirinya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Begitulah pentingnya ‘yang lain’ untuk mendampingi manusia di dalam proses hidupnya.

Bacaan pada hari ini sungguh menarik. Pada bacaan Injil dikisahkan bahwa Yesus akan meninggalkan para murid-Nya. Akan tetapi, Yesus pergi dengan tidak percuma menghilang begitu saja. Tetapi Yesus mengatakan dengan jelas bahwa “Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang kepadamu; sebaliknya jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” (Yoh. 16: 7). Yesus memberitahukan kepada para murid bahwa Ia harus pergi, Ia harus meninggalkan para murid. Itulah rencana Allah dan Yesus tentu mengetahui hal tersebut. Bila Yesus tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang dan tidak akan mendampingi mereka. Untuk menggenapinya maka Yesus mengatakan hal tersebut. Hal ini pun dikatakan Yesus agar para murid mengetahui kelak penghibur itu. Penghibur yang mendampingi, penghibur yang akan berpihak pada kebenaran. Lebih tegas lagi adalah penghibur yang akan selalu mendampingi mereka di dalam mewartakan Kerajaan Allah.

Saudara-saudari terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, tidak jarang kita tidak menyadari kehadiran Sang Penghibur yang selalu mendampingi. Kita justru malah sering bertanya “ke mana Yesus, di mana Tuhan”. Padahal dalam Injil hari ini Yesus menekankan bahwa ketika Ia pergi, penghibur yang akan mendampingi itu datang kepada kita dan ini tidak berbeda. Secara sederhana, penghibur itulah yang akan menjadi ‘rekan’ kita di dalam proses bagaimana kita mengembangkan hidup kita. Pada pekan ini juga, Keuskupan Bogor mengadakan Pekan Laudato Si’ dalam rangka memperingati 5 tahun terbitnya Ensiklik Laudato Si’. Keuskupan, khususnya pada pekan ini, mengajak kita semua untuk semakin mendalam bagaimana kita memahami dan menyadari apa yang ada di sekitar kita. Allah menciptakan kita bukan dengan maksud. Artinya kita sebagai manusia menjadi rekan ciptaan-Nya, menjadi co-creator. Kita sebagai manusia pun mewariskan dan menjaga apa yang sudah diciptakan oleh Allah (bdk. Kej. 1: 28-30). Di dalam proses itu, kita pun tidak sendirian. Penghibur yang dijanjikan itu akan mendampingi kita dalam menjaga dan mewariskan ciptaan. Agar apa yang kita lakukan tidak tetap sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

[Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]


Allah Bapa yang Mahakuasa, kami seringkali tidak menyadari betapa indah ciptaan-Mu. Justru kami seringkali merusak dan tidak menghargai. Bantu kami untuk menyadari dan terus menjaga apa yang sudah Engkau ciptakan dan percayakan kepada kami anak-anakMu. Amin.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.