Penyangkalan Diri

  • Jumat, 21 Februari 2020
  • Pekan Biasa VI
  • Bac I. Yak. 2:14-24.26
  • Mzm. 112:1-2.3-4.5-6
  • Bac Injil. Mrk. 8:34-9:1

            Sebagai manusia, sehat dan sakit merupakan suatu hal yang wajar. Saat kita sehat yang kita lakukan tentu mengejar tujuan yang ingin kita raih. Kondisi ini juga terkadang membuat kita lupa diri sehingga kita jatuh dan menjadi sakit secara fisik. Tujuan yang ingin dicapai harus seimbang dengan kemampuan pribadi kita. Namun, Tuhan lebih mengetahui kemampuan diri kita dan Ia menghendaki sesuatu yang berbeda. Sebaliknya, kita kurang sadar akan hal ini. Ketika sakit, kita diberi kesempatan untuk bersyukur akan rahmat Tuhan, waktu untuk beristirahat sejenak dari kesibukan duniawi kita. Namun terkadang kita lupa akan hal tersebut. 

            Injil hari ini mengajak kita untuk mewujudkan iman itu tidak hanya dengan perkataan melainkan juga dengan perbuatan. Kalau tanpa perbuatan, iman dikatakan mati. Lalu, ada korelasi juga dengan Injil yakni perbuatan kita sebagai orang kristiani itu hendaknya ditujukan bagi kemuliaan Tuhan dan bertindaklah di dalam nama-Nya. Bukan untuk menyelamatkan diri sendiri. Sehingga, jika suatu saat kita berada dalam penderitaan atau ‘sakit’, kita tetap meyakini bahwa kita sudah bertindak dalam nama-Nya dan percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita untuk kembali melanjutkan pewartaan Kabar Sukacita di dunia ini. Kita ‘beristirahat’ bukan karena kita menyerah karena suatu keadaan, tetapi Tuhan ingin kita untuk melihat sejauh mana kebaikan yang kita lakukan itu demi kemuliaan Allah.

            Hari ini, Yesus mengingatkan kita untuk “menyangkal diri, pikullah salib dan ikutilah Aku”. Panggilan Tuhan harus pertama-tama ditanggapi dengan penyangkalan diri. Karena itu setiap langkah hidup kita hendaknya didasari bukan hanya sebagai suatu bentuk aktualisasi diri terus menerus, melainkan mengaktualkan Tuhan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kita hendaknya melihat keadaan ‘beristirahat’ sebagai suatu kesempatan untuk menyangkal diri akan kepentingan-kepentingan duniawi dan mempersiapkan diri untuk menanggapi sapaan Tuhan “Ikutilah Aku”.

Tuhan Memberkati

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: