Percaya Tanpa Melihat

Senin 18 November 2019
Peringatan Fakultatif Basilika Santo Petrus dan Paulus
Bacaan I     : 1 Mak: 1:10-15.41-43.54-57.62-64
Bacaan Injil : Luk 18: 35-43

LEWAT Injil hari ini, kita diajarkan mengenai betapa iman datang dari pendengaran. Orang buta itu memilik iman yang kuat bahwa ia akan sembuh oleh kasih karunia yang Tuhan Yesus berikan. Sebagai seorang yang buta, ia tentu tidak bisa melihat seperti apa rupa Yesus. Biasanya, orang bisa percaya pada sesuatu bila telah melihat apa yang telah terjadi. Atau terkadang ia mengidolakan seseorang bila ia melihat paras yang cantik atau yang tampan. Namun orang buta ini tidaklah demikian; ia hanya mendengar kabar mengenai Yesus dari orang-orang, bahwa Yesus adalah seorang yang dapat menyembuhkan. Ketika Yesus lewat–yang ia ketahui juga lewat pembicaraan orang banyak, ia langsung beruaha menghampiri Yesus. Meski orang lain menghalangi dengan menyuruhnya untuk diam, dengan teguh ia tetap berusaha untuk meminta Yesus menyembuhkannya. Dan pada akhirnya, Yesus mendengarnya lalu menyembuhkannya. Pada saat mukjizat itu terjadi, semua orang pun memuji-muji Allah.

Dalam kehidupan beriman, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya terhadap rencana Allah dan bahwa Yesus senantiasa menyertai kita. Namun godaan-godaan dunia kerap kali berusaha untuk menghalangi kita untuk mengimani Kristus. Seperti orang yang menyuruh si buta itu diam, pastilah ada godaan yang berusaha agar kita diam dan tidak berupaya memberikan kesaksian iman tentang Kristus. Bahkan terkadang karena godaan dan tantangan, kita berpaling dari iman kita kepada Kristus. Kita justru melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang menggiurkan dan seolah dapat menyelesaikan masalah dengan cepat.

Menghadapi keadaan seperti itu, kita dapat belajar dari si orang buta. Ia tidak menyerah; ia memanggil Yesus dengan lebih keras lagi, dan pada akhirnya Tuhan mendengar. Terkadang tantangan itu melemahkan iman kita, lalu karena Tuhan tidak menjawab doa-doa kita lantas kita menyerah. Orang buta mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada Allah–pada Kristus, bahwa Ia akan membantu kita dalam segala persoalan, sekalipun sulit bagi kita untuk ‘melihat-Nya’. Hendaknya kita tidak mudah tergoda dengan beragam jalan pintas yang ternyata menyesatkan. Tetaplah berusaha mendegarkan petunjuk-petunjuk dari Allah dalam kesadaran penuh. Teruslah berseru hanya kepada-Nya dengan niat dan iman yang sungguh. Pada saat yang tepat seturut rencana-Nya, kita akan sadar bahwa Tuhan hadir dan membantu kita. Imanmu yang kuat pun menyelamatkanmu. (Fr. Albertus Aris Bangkit Sihotang)


Ya Yesus, di masa-masa sulit, terkadang terasa amat sukar bagi kami untuk menemukan-Mu. Semoga kami dapat belajar dari sang pengemis buta, yang mengimani kehadiran dan pertolongan-Mu dengan sepenuh hati dan melampaui keterbatasan inderanya. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: