Perkawinan Itu Berat Tetapi Penuh Berkat

Makassar – keuskupanbogor.org : “Mana yang lebih berat: Ditinggal wafat orang tua atau ditinggal wafat oleh pasangan hidup?” demikianlah salah satu pertanyaan dilontarkan oleh Romo Eko OSC kepada para pasutri dalam rekoleksi keluarga yang diselenggarakan dalam agenda kegiatan PKSN KWI di Keuskupan Agung Makassar. Para pasutri pun sepakat dalam sebuah jawaban, bahwa kehilangan pasangan jauh hidup lebih berat.

Lisa A Riyanto menyanyi dalam sesi break Rekoleksi Pasutri Katolik yang diselenggarakan oleh Komisi Komsos dalam rangka PKSN KWI 2019 di Keuskupan Agung Makassar. (Foto : RD David)

Dalam era digitalisasi, kehidupan keluarga saat ini menghadapi berbagai potensi degradasi. Untuk menyelamatkan kehidupan keluarga di era transformasi komunikasi dan informasi, PKSN KWI menggelar rekoleksi yang dihadiri sekitar 800 orang pasutri di Aula Asisi, Gereja Fransiskus Asisi, Makassar (Selasa, 28/05/2019). Dua narasumber dihadirkan dalam rekoleksi ini yaitu Romo Hibertus Hartono MSF dan Romo Eko OSC.

Romo Hibertus MSF ditengah para pasutri dalam rekoleksi yang diselenggarakan Komisi Komsos sebagai bagian dari agenda PKSN KWI 2019 di Makassar. (Foto : Steven)

Pada sesi pertama, Romo Hibertus Hartono MSF mengupas tema “Gadget dalam Keluarga : Mendekatkan atau Menjauhkan”.

“Hati-hati dalam bahasa media, sebab bahasa media itu adalah bahasa yang sulit untuk dicerna secara emosional,” ujarnya. Ia pun menyampaikan mengenai 6 jurus strong relationship. “Strong relationship itu terdiri dari 6 hal: 6T – think, talk, touch, time, trust, togetherness,” paparnya.

Romo Eko OSC memberikan sesinya dengan gayanya yang khas dalam Rekoleksi Pasutri Katolik di Makassar. (Foto : RD David)

Pada sesi kedua, Romo Eko yang baru-baru ini sosoknya melejit menjadi bintang You Tube mengajak para pasutri untuk menyadari dan mensyukuri pasangannya sebagai teman hidup seperjalan.

“Aku dan kau berjalan bersama di era digital. “Carilah kekuatan dalam Tuhan, karena Anda dipersatukan oleh Tuhan”, demikianlah salah satu pesan Romo Eko. “Perkawinan tanpa menghadirkan Tuhan itu berat.”

Gaya bercerita khas Romo eko yang jenaka dan lugas membuat semua peserta dengan penuh semangat dan antusias. Gelak tawa para peserta selalu pecah saat Romo Eko mengisahkan cerita-erita keseharian dalam kehidupan rumah tangga. Rangkaian rekoleksi ini pun ditutup dengan mendoakan bagi seluruh pasutri untuk semakin setia dalam hidup rumah tangganya.

RD David

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.