Persaudaraan dalam Iman

Selasa, 24 September 2019
Pekan Biasa XXV 
Bacaan I        : Ezr. 6: 7-8. 12b. 14-20
Bacaan Injil    : Luk. 8: 19-21

“BERGANDENGAN tangan dalan kasih, dalam satu hati.” Kalimat ini adalah sepenggal lirik dari lagu rohani yang sering kita nyanyikan. Lirik ini ingin menggambarkan bahwa persaudaraan yang kita alami saat ini bukan sekadar persaudaraan sedarah saja (keluarga), namun juga persaudaraan dalam iman; persaudaraan rohani. Ini adalah tentang bagaimana kita melihat sesama kita sebagai saudara.

Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan tentang ibu dan saudara-saudara Yesus yang datang dan ingin bertemu dengan Yesus. Akan tetapi, Yesus mengatakan hal yang mungkin bagi kebanyakan orang pada saat itu sangat mengagetkan. Dia berkata bahwa ibu dan saudara-Nya adalah orang-orang yang mendengarkan Sabda Allah dan melakukan ajaran-Nya. Bisa jadi, ketika kita ada pada saat itu pun, kita akan bingung atau marah kepada Yesus. Ia terdengar seperti tidak mau mengakui ibu dan saudara-saudara-Nya. Namun, tentu apa yang dipikirkan manusia jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Allah.

Yesus bukan bermaksud untuk tidak mengakui ibu dan saudara-saudara-Nya. Akan tetapi, pesan penting yang ingin disampaikan oleh Yesus di sini adalah setiap orang yang bersedia dan rela mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya, mereka adalah saudara Yesus. Persaudaraan yang ingin digambarkan oleh Yesus tidak lagi persaudaraan yang hanya dibatasi oleh hubungan darah saja. Di sini, Yesus menekankan bagaimana kita sebagai orang beriman dapat menghidupi persaudaraan iman, persaudaraan rohani. Kita tidak lagi melihat orang dari kedekatan relasi saja, tetapi juga bagaimana iman itu mampu mempersatukan.

Beriman kepada Yesus tidak hanya mencakup mendengarkan Sabda Allah saja, tetapi juga melakukan Sabda itu. Kesadaran akan persaudaraan dalam iman dan tekad yang kuat untuk terus mempertahankan iman adalah salah satu bentuk buah-buah rohani ketika kita sudah melakukan apa yang diajarkan Yesus kepada kita. Tindakan ini pun merupakan bentuk pewartaan yang bisa kita terapkan dalam hidup sehari-hari.

Maukah kita terus-menerus mengamalkan persaudaraan dalam iman kepada orang-orang di sekitar kita? (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)


Ya Yesus, jiwa kami bersukacita karena Engkau telah mempersatukan kami sebagai saudara-saudara-Mu. Semoga dengan teladan-Mu, kami dapat melaksanakan sabda Allah dalam hidup kami tiap hari. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.