Satu Tubuh, Satu Anggota

Selasa, 5 November 2019
Pekan Biasa XXXI
Bacaan I      : Rom. 12: 5 – 16a
Bacaan Injil  : Luk. 14: 15 -24

SELAIN memiliki jiwa, manusia memiliki tubuh. Tubuh menjadi bagian penting bagi manusia untuk melakukan segala sesuatu. Segala sesuatu yang bersifat indrawi pasti berasal dari tubuh. Pendengaran, penglihatan, pembauan, pengecap, dan perasa. Tanpa tubuh, kita kehilangan kemampuan indrawi kita. Menariknya, segala sesuatu yang ada dalam tubuh itu saling berhubungan. Misalnya ketika jari kita tergores pisau. Pasti refleks mulut kita berteriak “Aduhhhh!”. Mata kita mungkin mengeluarkan air mata. Spontan kita melompat-lompat untuk mengurangi rasa sakit, dan reaksi lainnya.

Dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari surat Paulus kepada jemaat di Roma, Paulus menyinggung soal kita sebagai satu anggota. Analogi tentang tubuh ini mempermudah kita untuk memahami apa yang ingin dimaksudkan oleh Paulus. Paulus ingin berkata bahwa sebagai Gereja, kita adalah satu tubuh. Artinya, walaupun karunia ataupun rahmat itu berlainan, tetapi kita tetap satu tubuh, satu Gereja. Lebih jauh lagi, Paulus ingin menekankan bahwa ketika ada anggota yang menderita, sudah menjadi tugas kita untuk membantu orang itu. “Hendaklah kalian saling menaruh kasih sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Paulus mengatakan ini bukan hanya sebagai nasihat belaka. Paulus bermaksud mengingatkan kita semua yang sering bersikap acuh tak acuh pada sesama. Jika kita tidak menaruh kasih atau melihat orang lain sebagai saudara dan satu anggota, maka tubuh itu akan rusak. Gereja itu rusak.

Di dalam hidup menggereja, mungkin banyak dari kita yang masih tidak melihat orang lain sebagai satu saudara, satu anggota. Banyak pelayanan yang kita lakukan, tetapi juga beberapa melakukan pelayanan hanya untuk menonjolkan diri agar terlihat aktif dalam kegiatan menggereja. “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, menangislah dengan orang yang menangis”. Paulus mengajak kita untuk melihat orang lain sebagai anggota yang terikat dalam satu persaudaraan dengan kita. Maka dari itu, ketika ada orang lain menderita, mungkin karena keadaan ekonominya atau masalah yang menimpanya, marilah kita bahu-membahu untuk membantu orang tersebut. Juga ketika saudara kita sedang bersukacita, baiklah kita jangan menjadi iri, melainkan bersukacita bersamanya.

Maukah kita menyingkirkan ego kita untuk melihat sesama kita sebagai saudara, sebagai anggota Gereja kita? (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)


Ya Allah, Engkau telah mempersatukan kami semua sebagai saudara. Semoga kami selalu peka terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain, dan siap diutus untuk saling membantu sebagai satu Gereja-Mu. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: