Say No To Untung-Rugi

Selasa, 7 Januari 2020
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan I        : 1Yoh. 4: 7-10
Bacaan Injil    : Mrk. 6: 34-44

ADA banyak reaksi ketika seseorang melihat orang lain ditimpa malapetaka. Ada yang biasa saja, masa bodoh, tak mau tahu, ada pula yang tergerak oleh belas kasih, turut merasakan penderitaan orang lain, dan melakukan sesuatu yang meringankan kesulitan orang lain. Belas kasih menggerakkan orang untuk keluar dari dirinya, dari kepentingannya, dan mengarahkan hati dan pikirannya pada orang lain. Belas kasih mendorong orang untuk bersikap murah hati.

Gambaran di atas sama seperti bacaan Injil pada hari ini. Yesus menunjukkan bahwa belas kasih adalah hal yang paling utama. Ketika banyak orang mengikuti-Nya, para murid meminta Yesus untuk menyuruh mereka pulang agar membeli makanan sendiri. Namun Yesus berpikir lain. Yesus Sang Guru justru meminta mereka untuk memberi makan. Tindakan Yesus ini merupakan satu hal yang berani. Padahal, Dia pun tahu bahwa persediaan makanan yang para murid bawa tidak akan cukup bagi orang banyak itu. Akan tetapi, di sinilah bahwa Yesus ingin menunjukkan belas kasih Allah kepada para pengikut-Nya. Yesus bukan sekadar ingin menunjukkan bahwa Ia bisa dan mampu menggandakan roti. Hal penting lainnya adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan para pengikut-Nya ‘kelaparan’. Hal ini pun dipertegas pada surat pertama rasul Yohanes yang mengatakan Allah adalah kasih.

Kita adalah manusia yang dibekali akal budi yang melebihi makhluk mana pun. Pasti ketika ingin berbuat baik atau berbuat kasih, di situ masih ada pertimbangan-pertimbangan yang didasari oleh sikap untung-rugi. ‘Kalau saya membantunya, pasti waktu saya terbuang percuma’. ‘Kalau saya menolongnya, pasti saya ikut terlibat masalah’. Pikiran-pikiran seperti ini pasti masih muncul ketika kita ingin berbuat baik. Ketika ada peristiwa tabrak lari, pasti kita tidak langsung menolong karena takut malah dituduh sebagai tersangka. Pikiran-pikiran ini tidak muncul dalam benak Yesus. Yesus percaya bahwa dalam setiap perbuatan baik, Allah tentu menyertai-Nya.

Maka dengan dasar ini, apakah kita sebagai murid-Nya bersedia mengikuti jalan pikiran-Nya? Apakah kita bersedia untuk memberikan kasih kepada sesama tanpa melihat pertimbangan-pertimbangan yang didasari untung-rugi? Marilah kita berbuat kasih kepada seorang yang lain, karena kasih itu tidak mengharapkan imbalan.

[Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.