Semakin Dekat dan Semakin Peka

Rabu, 8 Januari 2020,
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan I   : 1 Yoh.4 :11-18
Mazmur     : Mzm.72 : 1-2. , 10-11, 12-13
Injil      : Mrk. 6: 45-52

BEBERAPA waktu yang lalu, terdapat video viral yang berisikan interaksi antara bayi dengan seorang ayah. Ayah tersebut mempunyai kumis dan jenggot yang tebal, sehingga bayi itu sudah terbiasa dan sering memainkan jenggot sang ayah. Selang beberapa hari, si ayah mencukur habis kumis dan jenggotnya lalu menggendong si bayi tersebut. Si bayi memandangi ayahnya dengan heran dan bingung, tak lama kemudian ia menangis. Bayi tersebut tidak mengenali ayahnya, sehingga ia mengira orang asing yang menggendongnya.

Injil hari ini, menceritakan tentang Yesus yang berjalan di atas air menghampiri para murid yang sedang kesusahan mendayung perahu karena angin kencang. Para murid ketakutan ketika melihat Yesus menghampiri mereka. Mereka mengira sosok yang berjalan di atas air itu adalah hantu, lantas mereka berteriak-teriak. Para murid tidak menyadari bahwa yang berjalan di atas air tersebut ialah Yesus yang hendak membantu mereka.

Tidak ada orang yang tidak memiliki kesusahan dan masalah dalam hidupnya. Rasa-rasanya masalah tak ada habisnya walaupun sudah berhasil diatasi satu per satu. Masalah pun dapat datang dari berbagai sisi, mulai dari ekonomi, keluarga, kepribadian, sosial, dan lain-lain. Dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup, tentunya kita tidak berjalan sendirian. Ada pihak yang membantu, seperti teman, sanak saudara, dan tentunya Tuhan sendiri. Bantuan-bantuan dapat disadari maupun tidak disadari, tergantung seberapa besar tingkat kepekaan kita. Injil hari ini bercerita bahwa para murid kurang peka terhadap Yesus yang datang, bahkan menganggap-Nya sebagai hantu. Para murid dan bayi dalam kisah di atas sama-sama kurang mengenali siapa yang menolongnya.

Kurang eratnya relasi dengan Allah dapat membuat kita kurang peka terhadap bantuan-bantuan sederhana yang ada di sekitar. Lewat tangan-tangan yang baik hati dan nasihat-nasihat sederhana, Tuhan senantiasa membantu agar kita kuat menghadapi masalah hidup. Orang-orang yang kita jumpai di sekitar merupakan bantuan dari Allah sendiri.

Dengan kasih-Nya yang begitu besar, Allah ingin manusia kuat menghadapi masalah-masalah dan kemudian berjalan tegak sebagai pemenang. Akan tetapi, mungkin kita hanya selewat melihatnya dan tidak menanggapinya sebagai sesuatu yang berarti, karena kita menganggap bantuan tersebut sebagai hantu. Semoga kita semakin peka terhadap Allah yang nampak dalam hal-hal sederhana di sekitar kita. Amin.

[Fr. Ignatius Bahtiar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.