Seturut Perkataan-Mu, Bukan Perkataanku

Kamis, 12 September 2019 
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII
Bacaan 1 : Kol. 3:12-17
Mazmur   : Mzm 150:1-6
Injil    : Luk. 6:27-38

HARI ini Gereja memperingati Nama Santa Perawan Maria yang Tersuci. Keistimewaan hari ini dimulai dari perayaan lokal di Cuenca, Spanyol pada tahun 1513. Setelah sempat dihilangkan dan melalui banyak perubahan, Paus Yohanes Paulus II memasukkan kembali peringatan ini ke dalam kalender Gereja Katolik Roma untuk dirayakan setiap tanggal 12 September. Ada banyak interpretasi mengenai asal-usul dan julukan untuk nama Maria. Salah satunya adalah tafsiran Santo Bernardus, bahwa nama ‘Maria’ berkaitan dengan kata ‘Mare’ yang berarti ‘laut’. Nama ini kemudian diabadikan dengan menjuluki Maria sebagai “Stella Maris” yang berarti “Bintang Laut”.

Ribuan orang di seluruh dunia berdevosi bagi nama Maria. Menurut pengalaman iman banyak orang, kesusahan dan kegelisahan akan terhibur tatkala menyebut nama Maria Bunda Yesus ini. Hal ini seperti yang sudah dinubuatkan Maria sendiri dalam “Magnificat“nya: “Sesungguhnya mulai dari sekarang sekalian bangsa akan menyebut aku berbahagia.” (Luk 1:48)

Kita percaya bahwa Bunda Maria sungguh-sungguh memiliki iman yang kuat melalui jawabannya kepada Malaikat Gabriel dalam perkataan “Aku ini Hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”, tetapi jawaban ini tidak serta-merta keluar tanpa pertimbangan yang matang. Persiapan yang matang dari dalam diri memampukan Bunda Maria untuk menjawab panggilan dari Tuhan. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah merendahkan ego diri di hadapan Tuhan. Merendahkan ego diri berarti kita menerima dengan penuh keyakinan bahwa tidak semua hal harus terjadi seturut keinginan pribadi.

Pesan serupa disampaikan juga dalam bacaan hari ini. Dalam Injil, Yesus mengingatkan kita untuk meniru sifat-sifat Allah Bapa: penuh kasih dan murah hati pada siapa pun, termasuk orang-orang yang menyakiti kita. Sebagai manusia, seringkali ego mengikat kita dalam dendam dan kemarahan. Alih-alih mengampuni, kita lebih suka mengikuti kehendak diri kita untuk membenci. Paulus juga menegaskan kembali perintah untuk saling mengasihi ini. Karena kita adalah orang-orang yang dikuduskan dan dikasihi Allah, seharusnya bukan ego pribadi yang menguasai diri kita, melainkan damai sejahtera Kristus (bdk. Kol 3:15).

Hidup selalu penuh dengan kejutan. Memiliki impian tentulah hal yang baik, namun jika kita selalu memaksakan agar semuanya terjadi hanya seturut keinginan kita, yang akan kita terima hanyalah kekecewaan. Maka dari itu, hendaklah kita senantiasa mempersiapkan diri untuk menerima kejutan-kejutan itu. Kata-kata “Terjadilah padaku menurut perkataanMu” yang diucapkan dari Bunda Maria merupakan kata-kata yang dahsyat. Kalimat itu akan memampukan kita pula untuk menerima kejutan-kejutan hidup. Meskipun yang kita terima ternyata tidak seperti keinginan kita, kita percaya dan berserah pada kehendak terbaik dari Allah. (Fr. Michael Randy)


Yesus Tuhan kami, nama suci-Mu telah melimpahkan berkat bagi dunia, termasuk bagi Maria, Bunda penolong kami semua. Semoga dengan teladan yang Bunda Maria tunjukkan, hati kami pun senantiasa dipenuhi oleh kasih ilahi yang selalu siap mengampuni. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.