Simak Suasana Sinode Para Imam UNIO di Puspas

Bogor – keuskupanbogor.org : “Sinode ! Mari kita berjalan bersama…Dengan penuh sukacita..yo..yo..ayo..Karena kita semua adalah Communio Injili…Yes..Yes..Yes..Yang peduli…Cinta alam..Misioner….rrr”.

Lirik di atas adalah sigla yang dilantunkan para imam saat menjalani Sinode yang berlangsung di Aula Magnificat, Pusat Pastoral Keuskupan Bogor (selama,23/04/2019). Sinode sebagai sebuah “jalan bersama” bukan hanya sebuah gerakan yang dilakukan umat di paroki, OMK dan lembaga pendidikan serta hidup bakti. Para imam UNIO (Imam Diosesan) dengan penuh sukacita melangsungkan sinode yang diberi nama Sinode Rumah Tangga Pastoran.

Romo Tri (Pastor Paroki St. Herkulanus) memberikan sharing kehidupan komunitas pastorannya. (Foto : RD David)

Sukacita menjadi suasana yang sangat kental dalam Sinode ini. Sinode ini dikemas bersaman dengan pertemuan UNIO. Bukan hanya bernyanyi Theme Song Sinode II Keuskupan Bogor, Bapa Uskup dan para imam pun larut dalam gerakan (tarian) sinode yang dipandu oleh OMK BMV Katedral Bogor. Tidak cukup satu kali, nyanyian bahkan dilanjutkan hingga tiga kali. Inilah sinode, yaitu ketika semua orang larut dalam suasana sukacita.

Dalam sambutannya, Mgr Paskalis mengapresiasi para imam yang telah melangsungkan Sinode di parokinya masing-masing. Kesan positif muncul dari umat bahwa para imamnya hadir dan ikut serta dalam jalannya Sinode. “Terima kasih para imam yang hadir dalam sinode. Umat senang melihat imamnya hadir dan ikut bersinode”, ucap Bapa Uskup Mgr Paskalis. “Saya berharap paroki-paroki yang belum jalankan sinode juga bisa seperti itu”, harap Bapa Uskup.

Romo Driyanto mengajak para imam bersukacita dalam sinode ini. (Foto : RD David)

Dalam sinode ini, para imam dibawa dalam sebuah sharing bersama perjalanan hidup berkomunitas dalam pastoral. RD Driyanto sebagai pemateri mengajak para imam untuk membangun sebuah komunitas hidup pastoran yang sehat dan menguatkan.

Berbagai sharing pengalaman dari para imam di pastorannya masing-masing mengalir dengan penuh antusias. Rumah tangga pastoran (communio para imam) menjadi sentral utama dalam karya pastoral. Saling menerima rekan imam bukan menurut idealisme pribadi tetapi menurut “begitulah karakter aslinya” merupakan sebuah syarat utama membangun sebuah “keluarga pastoran”. (RD David)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.