Tanda Penugasan Pemimpin

Kamis, 9 April 2020 

Kamis Putih

Bacaan 1  : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9

Mazmur    : Mzm. 89:21-22,25,27

Bacaan 2  : Why. 1:5-8

Injil     : Luk. 4:16-21

Hari ini kita merayakan Kamis Putih, hari di mana Yesus mengadakan perjamuan kudus dengan para murid untuk terakhir kali sebelum Ia menjalankan tugas-Nya yang mulia sebagai Mesias. Dalam perayaan ini kita juga mengetahui bahwa Ia menetapkan perjamuan Ekaristi dengan menggunakan forma dan materia yang kita sudah ketahui bersama. Dengan merayakan Ekaristi, kita tidak hanya mengenangkan Yesus dan perjanjian-Nya, tetapi juga merayakan perayaan kasih di mana Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihi para murid-Nya sampai Ia wafat di kayu salib. Salah satu perbuatan kasih-Nya kepada para murid adalah bahwa ia memberikan perintah cinta kasih dan membasuh kaki para murid. Perbuatan ini merupakan tanda perutusan baru bagi pemimpin, bahwa pemimpin sejati memiliki tugas untuk menjadi penyebar cinta kasih dengan melayani sesama manusia. Mengenai tugas seorang pemimpin, apakah kita menyadari bahwa ini merupakan bagian dari penggenapan mengenai pemimpin yang tertulis dalam Perjanjian Lama?

Dalam kisah penciptaan dalam Kejadian 1:28, Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk memenuhi bumi, menaklukannya berikut segala isinya. Hal ini, oleh beberapa oknum, dijadikan ‘senjata’ untuk mengeksploitasi bumi dan mengeruk segala isinya, sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa bumi sedang mengalami krisis ekologi, yang salah satu contohnya adalah pemanasan global. Di sini kita memahami bahwa Allah memberikan kuasa kepada manusia, yang menjadikan mereka sebagai pemimpin. Lalu dalam Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa Yesus menjadikan para rasul sebagai pemimpin melalui peristiwa pembasuhan kaki. Ketika diangkat sebagai pemimpin, para rasul diberikan kuasa oleh Yesus. Yesus memberikan paradigma baru mengenai pemimpin sebagai upaya untuk menggenapi perjanjian lama. Sebagai orang yang memiliki kuasa, pekerjaan pemimpin tidak lagi membawahi maupun menaklukan sesuatu. Seorang pemimpin yang baik memiliki tugas untuk merawat, memberikan cinta kasih, dan melayani manusia dan makhluk hidup lainnya.

Para saudara yang dikasihi Tuhan, dengan menyadari bentuk penugasan baru sebagai pemimpin dari Yesus Kristus, marilah kita juga ikut ambil bagian sebagai orang yang beriman dengan mengasihi sesama kita yang berkekurangan. Fenomena yang kita alami sekarang mengajak kita untuk mensyukuri apa yang kita miliki, merasakan empati kepada mereka yang berkekurangan, dan pada akhirnya kita sungguh-sungguh mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri.

[Fr. Michael Randy]


Ya Allah yang maha pengasih, terima kasih karena kami masih engkau perkenankan untuk mengenangkan PuteraMu terkasih dalam perjamuan ekaristi. Semoga kami sungguh-sungguh meneladani Putera-Mu dengan mengasihi sesama kami seperti kami mengasihi diri kami sendiri. Dan buatlah perbuatan kasih ini menjadi tanda bagi kami dan bagi orang yang kami tolong bahwa Engkau sungguh-sungguh mengasihi kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.