Tempat Bersandar dan Berkeluh Kesah

Rabu, 11 Desember 2019, 
Hari Biasa Pekan II Adven
Bacaan I    : Yes. 40: 25-31
Mazmur      : Mzm. 103: 1-2.3-4.8.10
Injil       : Mat. 11: 28-30

ADA seorang anak kecil yang berlari masuk ke rumahnya sambil menangis. Ia menangis sambil mencari ibunya. Ketika bertemu ibunya di dapur, ia langsung memeluk ibunya dan mengadu bahwa ia baru saja jatuh saat bermain sepeda. Ibunya langsung bertanya bagian tubuh mana yang luka dan mengobatinya dengan obat merah.

Dalam Injil hari ini kita mendengar ajakan Yesus sang juruselamat. Yesus dengan tegas mengajak kita untuk datang kepada-Nya ketika mempunyai beban berat, karena Ia akan memberikan kelegaan. Yesus menjaminkan diri-Nya sendiri sebagai tempat bersandar manusia kala dirundung nestapa dan kesusahan dalam hidup. Bahkan Yesus menyuruh kita untuk memikul beban yang diberikan Yesus sendiri. Beban itu berbeda dengan beban masalah kita di dunia, karena beban yang diberikan Yesus enak dan ringan. Beban tersebut adalah tuntutan untuk mengikuti Yesus sebagai murid. Yesus menjamin bahwa menjadi murid-Nya itu enak dan ringan. Ajakan ini bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah tawaran keselamatan dari Allah sendiri.

Kesulitan dan kesusahan dalam hidup memang tak terhindarkan. Dalam menjalani pendidikan, bekerja, hidup berumah tangga, kesusahan dan kesulitan menjadi dinamika tersendiri. Ada kalanya kita bahagia karena telah dapat menghadapi kesulitan, namun ada kalanya juga kita bersedih dan terpuruk karena kegagalan. Kesusahan dapat membuat kita merasa down dan seolah kita adalah orang yang paling terpuruk di dunia ini. Tak jarang pula ketika menghadapi kesusahan tersebut, ada orang yang mencari alternatif atau pelampiasan yang tidak baik seperti judi, minuman keras, menyiksa diri sendiri, dan sebagainya. Dalam Injil hari ini, Yesus menawarkan diri sebagai tempat untuk bersandar orang-orang yang mengalami kesusahan hidup, sehingga tidak mencari alternatif atau pelampiasan yang mengarah pada dosa. Seperti dalam kisah di atas, si anak kecil tahu kepada siapa dia datang ketika sedang sedih. Sebagai anak-anak Allah, kita pun seharusnya tahu kepada siapa datang ketika sedang kesusahan dan terpuruk, yaitu kepada Yesus.

Mengapa harus datang kepada Yesus? Karena Yesus lemah lembut dan rendah hati, serta Yesus berjanji bahwa akan memberingan ketenangan pada jiwa orang-orang yang sedang kesusahan. Dengan demikian, menjadi salah ketika orang mencari alternatif dan pelampiasan yang penuh dosa karena ketenangan yang didapat hanya sementara, sedangkan Yesus memberikan ketenangan yang tahan lama. Ketika kita merasa sedih atau terpuruk, kita datang kepada Yesus melalui doa dan devosi kita. Yesus selalu menerima kita seberapa sedih dan terpuruknya kita, semua tergantung kita sendiri mau datang kepada-Nya atau tidak. Semoga kita semakin berani menjadikan Yesus sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah.

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Yesus yang manis, tiada penderitaan dan kesusahan yang tak Engkau mengerti, sebab Engkau sendiri telah menanggungnya bagi kami. Dalam tiap kesulitan dan kesedihan, semoga kami selalu mengandalkan-Mu, karena hanya di dekat-Mu sajalah jiwa kami menemukan ketenangan. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: