Temu Imam, Mgr Paskalis Ajak Para Imam Wujudkan Hasil Sidang KWI 2019 Khususnya Perihal Persaudaraan Insani Untuk Indonesia Damai

Sukabumi – keuskupanbogor.org : Mgr Paskalis memberikan oleh-olehnya kepada para imam Keuskupan Bogor dalam rangkaian Temu Imam di Rumah Retret Santa Lidwina, Sukabumi (selasa, 26/11). Sekitar 50-an imam hadir dalam pertemuan yang rutin diadakan setiap tiga bulanan ini.

Oleh-oleh yang dimaksudkan adalah hasil pertemuan Bapa Uskup Mgr Paskalis dalam Sidang Tahunan KWI 2019 yang dilaksanakan di Bandung, 4 -14 November yang lalu. Sorotan utama Bapa Uskup adalah hasil studi bersama para uskup dan laporan komisi-komisi di KWI.

Para imam Keuskupan Bogor dengan khidmat mendengarkan paparan Bapa Uskup Mgr Paskalis dalam Temu Imam di Rumah Retret Santa Lidwina, Sukabumi (26/11). Foto : RD David

Dalam point pertama, terkait hari studi para Uskup dalam Sidang Tahunan KWI, Bapa Uskup Mgr Paskalis memaparkan perihal Perjanjian Abu Dhabi “Dokumen Persaudaraan Insani” yang terlahir dari perjumpaan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar.

“Persaudaraan Insani Untuk Indonesia Damai” yang menjadi tema dalam Sidang Tahunan KWI 2019 ini diturunkan dari dokumen tersebut. “Saya berharap para imam untuk mempromosikan, mengembangkan dan mewujudkan karya-karya pastoral yang mewujudkan persaudaraan insani khususnya dalam hubungan lintas iman”, tutur Bapa Uskup.

“Para uskup sepakat bahwa Gereja Indonesia mempromosikan, mewujudkan, mengembangkan dan memperjuangkan persaudaraan insani. Karya ini nantinya dirumuskan masing-masing keuskupan”, tambahnya.

Romo Wahyu (Koordinator Temu Imam) membuka jalannya Temu Imam di Sukabumi. (Foto : RD David)

Terkait dengan hal ini, Bapa Uskup pun telah mencontohkan bahwa di Keuskupan Bogor aksi menjalin persaudaraan ini telah ada dan harus terus dikembangkan. Romo Hendro dengan kelompok FKUB dan Basolia serta hubungannya dengan para tokoh lintas agama menjadi salah satu contohnya.

Ajakan untuk menggalakkan pastoral yang mengarah pada hasil Dokumen/ Perjanjian Abu Dhabi pun menjadi perhatian berikutnya. Keluarga memiliki peran sebagai sebagai sekolah kehidupan pertama yang menanamkan persaudaraan insani. Maka dari itu Mgr Paskalis memberi tekanan dalam pastoral keluarga (Komisi Keluarga) dan Komisi Kerawam.

Romo Benyamin Sudarto memberikan sharingnya dalam Temu Imam di Sukabumi. (Foto : RD David)

Para imam pun memberikan respon yang memperkaya bahasan “Persaudaraan Insani’ ini. Romo Benyamin Sudarto (Pastor Paroki MBSB Kota Wisata) salah satunya. Ia menyampaikan bahwa di Paroki MBSB karya pastoral diarahkan pada upaya membangun persaudaraan.

Hambatan dan tantangan membangun persaudaraan insani pun disampaikan oleh imam-imam lainnya. Tidak mudah memang membangun persaudaraan lintas iman terlebih pada daerah-daerah keras.

“Melakukan kegiatan bersama menjadi kunci membangun persaudaraan insani. Di Bogor kami ada Basolia”, tutur Romo Hendro memberikan sebuah ajakan solutif sembari menjelaskan karya-karya Basolia.

Hal lain yang disampaikan Bapa Uskup Mgr Paskalis terkait hasil Sidang Tahunan KWI adalah ajakan agar komisi-komisi menjalin kerja sama yang lebih intens dengan Komisi-Komisi di KWI.

“Ajaklah Komisi dari KWI hadir untuk melakukan kegiatan bersama entah sebagai nara somber atau paling minimal Komisi di KWI melihat gerak komisi di keuskupan kita”, papar Mgr Paskalis.

Temu Imam ini masih berlanjut dengan agenda berikutnya yaitu studi bersama dan sharing kegiatan hingga esok (rabu, 27/11). Kegiatan bersama ini menjadi sebuah kerinduan para imam untuk saling berjumpa, meneguhkan imamat dan menambah wawasan baru.

(RD David)

One thought on “Temu Imam, Mgr Paskalis Ajak Para Imam Wujudkan Hasil Sidang KWI 2019 Khususnya Perihal Persaudaraan Insani Untuk Indonesia Damai

  1. Maria Mediatrix Mali says:

    Wujudkan persaudaraan insani atau Ukuwa Insania , persaudaraan antar insan untuk Indonesia Damai. Bapak Uskup berharap agar kita dapat mewujudkan harapan hasil sidang KWI tsb.
    Dalam rangka menanamkan kesadaran hidup sehat sejak dini terutama antisipasi untuk pencegahan dini penyakit demam berdarah di wilayah sekolah sekolah Dasar di Tapos Depok..sejak awal September 2019 kami dari Sekolah Maria Yayasan Kodrat YPAB Perselutuan Doa YA.berkordinasi dengan Kepala Kepala Sekolah di Tapos ,agar bersedia di mengikuti pelatihan laskar jentik. 17 Sekolah bersedia dan setiap sekolah memilih 100 anak dilatih menjadi jumantik atau juru pemantau jentik di masing masing rumah dan di sekolah.
    Trix Mali.Ibu Yuli dan Ibu Ines serta ibu Susan dari sekolah Maria bergantian mendatangi sekolah sekolah Negeri untuk memberikan pelatihan .berbagi pengetahuan…gerak dan lagu laskar jentik , kami merasakan pelukan dan kehangatan anak2 SD Negri serta hubungan yang baik dengan guru guru sekolah Negri.
    Gerak dan lagu Laskar jentik …Agen Perubahan dan Belkaga…telah menyatukan kami..membuat persaudaraan lebih terasa .ikhtiar menjadikan Tapos sehat menjadi wadah untuk saling berbagi dan bersatu. Dan disana ada kedamaian.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: