Transfigurasi: antara Teori dan Kesaksian

Renungan Harian
Selasa, 6 Agustus 2019
Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya
Bacaan  : Dan 7:9-10.13-14, Mzm 97:1-2.5-6.9, 2Ptr 1:16-19, Luk 9:28-36

“Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku Berkenan”

ADA seorang pemuda introvert yang suka sekali mendengarkan cerita dari orang-orang di sekitarnya. Ia sangat suka mendengarkan orang, walaupun ia tidak begitu suka untuk berada di dalam keramaian. Ketika sedang berbincang dengan empat mata kepada partner bicaranya, ia akan sungguh mendengarkan apa yang dikisahkannya dan menanggapinya dengan baik.

Selain mendengarkan cerita dari orang-orang di sekitarnya, ia suka sekali menonton film dokumenter. Film-film yang ditontonnya membuka matanya akan beragam peristiwa nyata yang terjadi di dunia. Melalui film itu, ia belajar banyak mengenai berbagai bidang pengetahuan yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.

Tentu saja, kedua hal yang menjadi kesukaannya ini membantunya untuk menyadari dan mensyukuri segala hal yang dialaminya dalam hidup sehari-hari. Ia sungguh bersyukur atas segala hal yang Tuhan berikan kepadanya dan termotivasi untuk melakukan hal-hal baik kepada orang-orang sekitarnya. Alih-alih hanya mendengarkan teori-teori, mendengarkan kesaksian dan menyaksikan liputan nyata dari beragam fenomena dapat lebih menggugah iman dan hatinya. 

Hari ini adalah hari di mana Kemuliaan Yesus ditampakkan (Transfigurasi). Kemuliaan Yesus yang ditampakkan sungguh menggugah hati para murid yang diajak ikut ke gunung. Kata-kata “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku Berkenan”yang didengar bukanlah merupakan kalimat yang hanya berlalu begitu saja.

Kalimat tersebut menjadi semangat para rasul, khususnya Santo Petrus, untuk bersaksi tentang Yesus Kristus seperti yang tertulis dalam bacaan pertama. Pengalaman langsung yang didapat oleh Santo Petrus ini membuatnya yakin bahwa Yesus lah sang Juru Selamat yang dikasihi oleh Allah. Kesaksian inilah yang membuat kita hidup dan percaya kepada apa yang diwartakan oleh para rasul.

Motto “Pengalaman adalah Guru yang Terbaik” bukan merupakan pepesan kosong. Pengalaman yang dialami membuat orang lebih menyadari tentang kasih Tuhan yang begitu melimpah terhadap hidup manusia. Pengalaman hidup sehari-hari yang dialami oleh para rasul membuat mereka sungguh menyadari kasih Allah yang berlimpah. Maka dari itu, hendaknya kita juga menyadari bahwa kasih Tuhan itu datang dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari. 

Sehebat apapun peristiwa yang dialami, bagaimana hal itu dapat menggugah hati dan pikiran bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam hidup manusia menjadi poin yang amat penting. Pengalaman yang dapat menggugah hati dan pikiran manusia itu dapat berupa hal kecil yang kita sadari sehari-hari.

Mungkin kita terlalu sibuk untuk mencari peristiwa-peristiwa besar untuk menggugah hidup. Tetapi, cobalah untuk menyadari sejak awal peristiwa-peristiwa yang dialami sehari-hari, seperti mengamati hal apa saja yang dilihat sepanjang beraktivitas, menyadari kata-kata yang keluar dari mulut dan masuk ke dalam telinga, mengetahui apa saja yang dimakan dan diminum sepanjang hari, dan lain sebagainya. Stop and smell the roses, demikian istilah populernya dalam Bahasa Inggris.

Kesaksian-kesaksian yang datang dari mana saja, baik itu dari cerita orang lain dan dari pengalaman pribadi maupun dari peristiwa besar dan kecil, dapat menguatkan hati, pikiran, dan iman bahwa Tuhan sungguh hadir dalam hidup kita. Ketika sudah menyadari hal itu, marilah kita bersyukur kepadaNya dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mewartakan kebaikanNya dengan mengasihi sesama manusia.


Tuhan, semoga melalui kebaikanMu yang hadir secara nyata dalam hidup kami sehari-hari, kami pun dikuatkan untuk selalu menjadi pewarta Allah Yang Hidup. Amin.

(Fr. Michael Randy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.