Tubuh, ‘Pabrik’ Berkat Allah

Sabtu, 9 November 2019
Bacaan I     : Yeh 47:1-2,8-9,12
Bacaan II    : 1 Kor 3: 9b-11
Bacaan Injil : Yoh 2: 13-22 
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran 

BAIT Allah adalah tempat yang suci. Jika kita melihat dalam sejarah, daya tarik Bait Allah selalu membuat manusia menyadari posisinya yang takut akan Allah. Berdasarkan pengalaman akan kekaguman terhadap Allah yang tak terkatakan, Bait Allah pun dibangun dengan kompleksitas dari sisi fisik sampai spiritualnya.

Konsep itu dapat kita lihat dari bacaan pertama, di mana nabi Yehezkiel mencoba menggambarkan sisi spiritualitas Bait Suci lewat gambaran suasana dan bangunannya. Suasana Bait Suci membuat segala ciptaan betah berlama-lama tinggal di sana. Segala kebaikan dan sukacita dikisahkan oleh nabi Yehezkiel, mulai dari bentuk fisik yang megah, seperti gerbang yang memukau, sungai-sungai dengan air yang menyejukkan, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang selalu bersukacita, dan buah yang memiliki kekuatan menyembuhkan. Semua kemegahan dan keindahan ini oleh Rasul Paulus dipertegas dengan pemahaman kamu adalah tempat kediaman Allah.(1 Kor 3:16). Surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus mengarahkan kekaguman dan kecintaan kita terhadap Bait Suci kepada tubuh kita masing-masing.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, pemahaman Nabi Yehezkiel dan Rasul Paulus mengenai tubuh dan Bait Allah mengajak kita untuk lebih menghormati tubuh yang merupakan sarana berkat Allah. Tubuh adalah sesuatu yang berharga, dapat kita lihat ketika Allah berinkarnasi –yakni ketika Allah mengambil wujud sebagai manusia; Allah menghadirkan dirinya dalam tubuh agar manusia dapat melihat dan bertemu dengan sosok Allah yang Maha Besar itu.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita memperingati pesta pemberkatan Gereja Basilika Lateran, salah satu bangunan Gereja tertua. Dapat dikatakan bahwa bangunan itu lebih tua dibandingkan Gereja Basilika Santo Petrus. Kemegahan Gereja ini menjadi penting karena ingin mencapai sisi spiritual. Saya belum pernah secara langsung melihat Gereja tersebut, tetapi teknologi media di zaman sekarang sungguh membantu. Banyak gambar-gambar yang dapat mewakili di internet. Ketika melihat bangunan basilika-basilika, dari tampak depan kita seperti disergap, seolah-olah kita ini adalah mahluk yang kecil dan tidak berdaya. Melihat material-material keras yang kokoh mengingatkan kita akan banteng kerajaan Allah. Lukisan-lukisan yang complicated membuat kita betah dan ingin berlama-lama di sana. Apakah ini yang dirasakan Yesus ketika berdoa di gunung dan bertemu dengan Bapa dan Para Kudus?

Saudara-saudari yang terkasih, hal yang dapat direfleksikan hari ini adalah masih adakah dalam diri Anda tempat kekaguman dan rasa betah ketika bertemu Allah di Gereja? Atau masihkah kita menghargai tubuh kita sebagaimana Yesus begitu mencintai dan menghargainya? Mari saudara-saudari yang terkasih, kita mencintai tubuh kita sendiri yang adalah Bait Suci, sehingga melalui tubuh kita dapat membagikan kasih Allah kepada banyak orang, sebab tubuh kita telah menjadi ‘Pabrik berkat’. (Fr. Petrus Damianus Kuntoro)


Ya Yesus, seringkali kami lupa bahwa tubuh kami adalah anugerah yang harus kami pergunakan dengan baik untuk memuliakan nama-Mu. Bimbinglah kami untuk menggunakan tubuh selayaknya kami menghormati Bait Suci-Mu, sebab Roh-Mu pun bersemayam di dalamnya. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: