Turut Rayakan Hari Anak Internasional, Sekolah Mardi Yuana Ajari Anak Kesadaran Lingkungan

Kelapa Dua – keuskupanbogor.org : Romo Andreas Arie bersemangat menceritakan pengalaman kelas belajar di luar ruangan. Imam yang baru saja merayakan pesta setahun imamat pada 1 November yang lalu ini mengisahkan proses pendidikan sekolah dalam nuansa baru sebagai bentuk dukungan pada Hari Anak Internasional.

“Sehari Belajar di Luar Kelas” yang digagas dalam rangka Hari Anak Internasional (Kamis, 7/11) mampu menumbuhkan semangat belajar yang penuh kegembiraan pada anak-anak. Wajah-wajah ceria anak-anak melakukan aktivitas pendidikan tanpa sekat tembok kelas membawa anak-anak semakin antusias.

Lapangan, gazebo dan pelataran kelas menjadi ruang belajar anak. Para guru duduk bersama para murid, melantai, memberikan pengajaran dan diskusi. Sangat terasa bahwa guru dan murid semakin akrab. Lontaran pertanyaan dari para murid membanjiri ketika guru dan murid semakin akrab dan dekat.

Suasana “Sehari Belajar di Luar Kelas” SMP Mardi Yuana, Rangkasbitung. (Foto : Romo Arie)

“Kegiatan belajar mengajar hari ini pun ditunjukkan dengan lebih mengeksplor alam sekitar yang kerap kali luput dari perhatian kita. Dengan belajar di luar melihat langsung lingkungan sekitar, pelan-pelan dapat meningkatkan kesadaran anak-anak didik terhadap lingkungannya”, jelas Romo Arie.

“Proses interaksi belajar menjadi semakin hidup. Interaksi antar murid satu sama lain pun terlihat lebih hidup dan aktif sehingga relasi persaudaraan kasih pun dapat terbentuk secara baik”, lanjut imam yang juga pastor vikaris Paroki Rangkasbitung ini.

Banyak hal positif didapat saat suasana belajar dilakukan di luar kelas. Sehari Belajar di Luar Kelas. (Foto : Romo Arie)

Gelaran Sehari Belajar di Luar Kelas ini serempak dilakukan di semua sekolah Mardi Yuana. Dalam hal ini sekolah-sekolah Mardi Yuana seperti Mardi Yuana Cicurug, Mardi Yuana Bogor, Mardi Yuana Depok dan Mardi Yuana Rangkasbitung Labuan melakukannya dengan semangat bergembira.

Melihat banyaknya hal positif yang didapat, apakah kedepannya ini hanya sekedar kegiatan dalam merayakan Hari Anak Internasional atau metode ini dijadikan agenda rutin dalam proses belajar mengajar? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, belajar di sekolah bukanlah hanya perkara nilai semata melainkan untuk sebuah kehidupan. Non scholae sed vitae discimus.

( RD. Yosef Irianto Segu, RD. Antonius Garbito, RD. Arie Priyanto, RD. Andreas Arie)

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: