Nama Pelindung : Santo Markus
Buku Paroki : 1994
Alamat : Jalan Kerinci Raya No. 11, Depok II Timur 16417
Telepon (021) 7703229 Fax. (021) 77820656
Romo Paroki : RD Antonius Dwi Haryanto
Web: www.sanmardepok.com

Langkah awal perkembangan Gereja Katolik Santo Markus Depok II Timur mulai dirintis pada bulan Desember 1979 oleh L. Supratjojo, Fx. Sastro Prajitno, dan PC. Sudirman, yaitu awal penghunian Perumnas Kawasan Depok II Timur. Langkah tersebut dilakukan dengan mencari nama dan alamat umat katolik dari pintu ke pintu dan juga melalui kantor Perum Perumnas Kawasan Depok II Timur, khususnya dari daftar penghunian yang ada di sana.
Dari usaha tersebut, maka pada bulan Februari 1980 telah terhimpun umat Katolik sebanyak 26 Kepala Keluarga. Dengan terhimpunnya 26 Kepala Keluarga tersebut, penghimpunan umat selanjutnya berjalan dengan lancar, kendati informasi itu dilakukan dari mulut ke mulut.
Sebelumnya, yaitu pada tanggal 20 Januari 1980 PC. Sudirman dengan Th. Sadadi menemui Pastor Y. Suparman, Pr. di Cibinong. Dari hasil pembicaraan tersebut, Pastor Y. Suparman, Pr. menyatakan akan segera berkunjung ke Depok Timur sekaligus menyanggupi untuk menjadi Pembina.
Kemudian pada tanggal 7 Februari 1980 di rumah keluarga Th. Sadadi, yaitu di Jalan Lesung II nomor 228 diadakan perayaan Ekaristi yang dihadiri 35 orang. Perayaan Ekaristi ini adalah yang pertama kali diadakan di kompleks Perumnas Kawasan Depok II Timur. Kemudian, perayaan Ekaristi masih terus dilaksanakan sekalipun dengan tempat-tempat yang berpindah-pindah.
Setelah perayaan Ekaristi tanggal 7 Februari 1980 tersebut dilanjutkan pertemuan sebagai perkenalan. Atas anjuran Pastor Y. Suparman, Pr., yang saat itu kebetulan memimpin ibadat, maka diadakan pemilihan pengurus lingkungan. Dalam pertemuan tersebut disepakatilah pengurus lingkungan dengan susunan: Fx. Sastro Prajitno (Sebagai Penasehat), Y. Lakon (Ketua), L. Supratjojo (Wakil Ketua), PC. Sudirman (Sekretaris), Th. Sadadi (Bendahara).
Dengan terbentuknya pengurus lingkungan tersebut, maka saat itu pulalah Paroki Depok II Timur mulai tumbuh dan berkembang.
Kegiatan-kegiatan umat untuk selanjutnya juga masih amat terbatas. Misa diadakan setiap hari minggu dengan mengambil tempat dan waktu yang masih belum menentu. Dengan kegiatan misa yang berpindah-pindah dan waktu yang tidak pasti itu di sisi lain amat membantu dalam penghimpunan umat. Atas kesediaan keluarga Y. Lakon, maka kegiatan perayaan Ekaristi Kudus ditetapkan di rumah keluarga Y. Lakon dengan mengambil waktu pukul 17.00 WIB.

Usaha Membangun Kapel
Walupun lingkungan sudah terbentuk, namun kegiatan-kegiatan umat saat itu masih sangat sedikit jumlahnya, bahkan itu pun mulai dirintis. Atas dorongan Pastor Pembina, para pengurus lingkungan sepakat untuk merintis pembangunan gedung ibadat sementara (Kapel). Pada tanggal 31 Maret 1980 dimulailah pengurusan izin dan persyaratan pembangunan gedung kepada Perum Perumnas dan Pemerintah Daerah. Setelah hamper tiga bulan, maka pada tanggal 24 November 1980 Surat Ijin Prinsip dari Pimpinan Perumnas telah berhasil terbit. Pada surat tersebut juga ditunjukkan lokasinya, yaitu di Jalan Kerinci Ujung atau sisi jalan Dempo Raya.
Pada tanggal 9 Desember 1980 pembangunan fisik dimulai. Dana yang berhasil dikumpulkan dari umat berwujud bahan bangunan dan uang. Pembangunan gedung yang berukuran lebih kurang 8 x 15 meter itu pada perayaan Natal 1980 sudah dapat digunakan untuk perayaan Ekaristi Malam Natal. Walaupun kondisinya belum memadai karena lantainya masih berupa tanah dan dinding belum diplester dengan semen, namun hal itu tidak mengurangi khidmatnya melaksanakan perayaan Ekaristi Natal.
Berkat kerja sama umat dan seiring dengan makin bertambahnya umat baru, khususnya para penghuni Perumnas, maka pembangunan gedung Gereja yang menelan biaya hampir Rp 4.000.000,00, maka pada bulan Juni 1982 gedung Gereja tersebut selesai. Dengan selesainya pembangunan gedung Gereja yang masih bersifat sementara ini, maka setiap perayaan Ekaristi dipindahkan dari keluarga Y. Lakon ke gedung baru tersebut.
Untuk memperlancar komunikasi dan kerjasama, maka lingkungan Depok II Timur dibagi dalam kelompok yang mengikuti nama Blok pada Perumnas tersebut. Mulai saat itu pula kegiatan-kegiatan pembinaan dan pelayanan mulai dirintis. Kegiatan-kegiatan itu antara lain Sekolah Minggu, pengajaran agama untuk katekumen dewasa, persiapan perkawinan, dan doa bergilir.
Dari kegiatan-kegiatan yang bersifat pewartaan dan pembinaan tersebut, maka selama tahun 1980 telah membaptis umat baru, yang terdiri atas anak-anak sebanyak 18 orang anak, 6 orang dewasa, 11 orang peserta Krisma, dan 5 pasang pemberkatan pernikahan. Seiring dengan itu pula, maka terbentuklah beberapa perkumpulan umat, yaitu Rukun Ibu-ibu Katolik (RIKA) yang dibentuk pada tanggal 2 Maret 1980, Perkumpulan Muda-mudi Katolik (Mudika) yang terbentuk pada tanggal 28 September 1980.
Atas anjuran dan restu Bapa Uskup Bogor serta didukung oleh Pastor Pembina, maka pada tanggal 21 November 1980 berdirilah yayasan Bintang Timur yang mengelola sebuah Taman Kanak-kanak dengan nama “Santo Yoseph”. Tempat kegiatan belajar-mengajar TKK tersebut dilaksanakan di Kapel pada hari-hari kerja biasa atau selama Kapel tidak digunakan untuk kegiatan ibadat.

Memperoleh Status Sebagai Stasi
Pada tanggal 15 Februari 1981 dalam suatu rapat lingkungan yang dihadiri oleh pengurus lingkungan dan kelompok serta dihadiri oleh Pastor Pembina Y. Suparman, Pr., disetujui bahwa Lingkungan Depok Timur harus ditingkatkan statusnya menjadi stasi. Hal tersebut dipertimbangkannya bahwa jumlah umat yang semakin bertambah tentunya yang diiringi pula oleh semakin bertambahnya para penghuni Perumnas Depok II Timur tersebut yang saat itu sudah mencapai 75 Kepala Keluarga. Atas saran dan anjuran Pastor Pembina, maka Stasi Depok II Timur menggunakan nama pelindung “Santo Markus”. Dengan demikian, karena Lingkungan telah berubah menjadi Stasi, maka kelompok yang menggunakan nama Blok tadi dinaikkan statusnya menjadi Lingkungan. Saat itu pula Stasi Santo Markus mempunyai 6 Lingkungan, yaitu Lingkungan Santo Benedictus, Lingkungan Santa Theresia, Lingkungan Santo Blasius, Lingkungan Santa Christina, Lingkungan Santo Yustinus, Lingkungan Santo Ignatius, dan pada tahun 1984 bertambah 1 Lingkungan lagi, yaitu Lingkungan Santo Bertinus yang wilayahnya berada di komplek Perumahan Pelni Kampung Sugutamu.
Setelah berhasil mengembangkan karya pelayanannya di Paroki ini, maka akhir tahun 1981 Pastor Y. Suparman , Pr. dialihtugaskan ke Keuskupan Bogor dan digantikan oleh Pastor A. Brotowiratmo, Pr. Semasa Pastor A. Brotowiratmo, Pr. berkarya, maka keadaan umat sudah lebih mantap, karena tempat pusat kegiatan sudah ada. Kegiatan umat juga semakin meningkat, jumlah umat semakin bertambah yang saat itu tercatat sekitar 192 Kepala Keluarga, dan kegiatan Liturgi pun semakin semarak. Bahkan, dalam masa pembinaan Pastor A. Brotowiratmo, Pr. ini, proyek yang cukup besar adalah pembangunan gedung gereja permanen. Modal proyek ini adalah uang sisa dari pembangunan kapel berupa uang kontan yang saat itu sebesar Rp 512.175,00 dan bahan bangunan senilai Rp 104.000,00.
Pada bulan April 1983 dimulailah pekerjaan fisik dengan mengerahkan umat untuk kerja bakti menggali lubang fondasi. Dalam usaha pembangunan gedung gereja permanen ini tidak bisa dilupakan peran dan jasa FX. Hambali, seorang arsitek yang juga menjadi Ketua Wilayah di Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B Kebayoran Baru Jakarta. Setelah hampir 4 tahun umat berjuang menghimpun dana, maka pada tanggal 18 Desember 1998 salib besar berhasil dipasang. Salib besar tersebut harganya mencapai 1,6 juta itu adalah karya pemahat asli dari Jepara yang bernama Sumiat dengan manajernya Bachrin. Mereka adalah seorang muslim yang sangat taat, namun dalam pengerjaan Salib tersebut mereka tidak segan-segan untuk memandang Salib modelnya serta Kain Kafan dari Turin sebagai referensinya. Pada tanggal 21 April 1989 gedung yang menelan biaya lebih dari Rp 92.000.000 itu selesai dan pada tanggal 11 Februari 1990 Bapa Uskup (saat itu Mgr. Ign Harsono, Pr.) memberkati gedung Gereja dan diresmikan oleh Walikota Kotif Depok, yaitu Drs. Abdul Wachyan.

Kelompok-kelompok Kegiatan
Semasa pelayanan Pastor A. Brotowiratmo, Pr itu pula mulailah dikembangkan beberapa kegiatan-kegiatan Gereja.
Kerasulan Doa Maria Fatima (KMF) untuk Depok II Timur disahkan pada tanggal 6 Maret 1983. Kelompok ini sangat mendukung dalam pembinaan iman umat melalui devosi kepada Maria. Setiap Lingkungan kegiatan doa tersebut dilaksanakan secara bergiliran dan berjalan dengan rutin yang diikuti dengan latihan Koor. Begitu pula untuk perayaan Ekaristi digilir per lingkungan. Mengingat jumlah umat yang kian bertambah, tidak mustahil persoalan-persoalan kehidupan umat yang dihadapi pun semakin bertambah pula. Oleh sebab itu, Pastor Pembina mengadakan kunjungan keluarga yang terjadwal secara teratur untuk melayani umat yang bermasalah ataupun sekedar kunjungan silahturami. Selain itu, pengajaran agama kepada anak-anak yang menangani anak-anak sekolah negeri juga dilakukan oleh pengurus Stasi yang ditampung di Sekolah Minggu. Yang lebih membanggakan adalah berhasilnya Stasi Santo Markus mengadakan kerjasama dengan SMP Negri 3 Depok untuk ikut memberi pelajaran agama Katolik di sekolah tersebut bagi anak-anak yang beragama Katolik.
Di bidang sosial, ibu-ibu RIKA selalu mengadakan kunjungan ke Panti-panti Asuhan, di antaranya pada tahun 1983 yang mengadakan kunjungan di Panti Asuhan Cilingcing, Jakarta Utara. Pada tahun 1984 melaksanakan kunjungan ke Panti Asuhan Boro Kulon Progo Yogyakarta, sekaligus ziarah ke Gua Maria Sendang Sono.
Bulan Agustus 1990 Pastor A. Brotowiratmo, Pr. dialihtugaskan ke Keuskupan Bogor dan digantikan oleh Pastor Paroki Cibinong, yaitu Pastor Frans Lorry, Pr. Semasa jabatannya dikembangkan pula struktur wilayah pelayanan lingkungan. Sekitar tahun 1993 seiring perkembangan Real Estate di sekitar Komplek Perumnas, maka wilayah pelayanan Lingkungan Benedictus yang umatnya melebihi 100 Kepala Keluarga, dikembangkan menjadi 2 Lingkungan, yaitu Lingkungan Santo Benedictus dan Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius. Semasa Pastor Frans Lorry, Pr. proyek yang sangat besar adalah pembangunan gedung pastoran. Pembangunan ini dimulai pada tanggal 3 Desember 1990 dan selesai pada tanggal 20 Agustus 1993 dengan menghabiskan biaya sebesar kurang lebih Rp 66,6 juta.

Depok Timur Menjadi Paroki St. Markus
Dengan selesainya gedung Pastoran ini, Stasi Santo Markus rasanya sudah layak untuk menjadi sebuah Paroki. Permohonan serta harapan umat yang sudah mencapai 500 Kepala Keluarga itu disetujui oleh Bapa Uskup. Pada tanggal 20 November 1994 Stasi Santo Markus diresmikan menjadi Paroki “Santo Markus” oleh Bapa Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM yang sekaligus pula melantik Dewan Paroki. Upacara tersebut dilaksanakan dalam suatu perayaan Ekaristi.
Pada saat peresmian Paroki “Santo Markus” itu pula, maka Pastor Christoforus Lamen Sani, Pr. langsung menjabat sebagai Pastor Paroki. Beliau berkarya di Paroki “Santo Markus” sekitar 2 tahun yang kemudian pada tahun 1997 dipindahkan ke Paroki “Santo Fransiskus” Sukasari Bogor. Sempat pada masa jabatannya itu, beliau melaksanakan pengadaan kendaraan dinas Paroki.
Pada bulan Januari 1997 dilaksanakanlah serah terima jabatan Pastor Kepala Paroki dari Pastor Christoforus Lamen Sani, Pr. kepada Pastor Tarsisius Suyoto, Pr. yang disaksikan oleh Bapa Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dalam perayaan Ekaristi. Pada saat itu pula Paroki Santo Markus Depok II Timur terbagi atas 8 wilayah dan 19 lingkungan. Baru menjabat sekitar 1 tahun sebagai Pastor Kepala Paroki, Pastor Tarsisius Suyoto, Pr. telah berhasil mengadakan renovasi gedung gereja dan perbaikan gedung Kapel yang lama dan dijadikan Gedung Serba Guna. Kemudian berhasil pula melengkapi Gereja dengan peralatan-peralatan Liturgi yang lebih memadai, di antaranya Relief Peristiwa Jalan Salib yang terbuat dari Fiber Glass.
Perjalanan panjang Paroki “Santo Markus” di atas tidak akan berakhir di situ saja. Masih begitu panjang perjalanan yang harus ditempuh. Tentunya dengan suatu keyakinan bahwa Tuhan tidak akan diam untuk umatnya yang terus berkarya untuk memujiNya serta menyampaikan PenyelamatanNya ini. Kita selalu berdoa saja.

Jadwal Perayaan Ekaristi
Harian : Pukul 05.30WIB
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 18.00 WIB
Minggu : Pukul 07.00 WIB
Pukul 18.00 WIB

Sumber : Ign. Wasiran, Th. Sadadi, A.C. Tukiman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *