Logo dan Motto Mgr. Paskalis Bruno Syukur

Keterangan Umum

  1. Lambang ini mengandung dimensi kontinuitas penggembalaan dan unsur kebaruan yang kami letakkan atas fondasi yang dibangun oleh para gembala pendahulu kami. Gagasan ini diinkarnasikan dalam bentuk logo oleh Fr. Yulius Ferry Kurniawan OFM.
  2. Keseluruhan lambang menampilkan keanekaragaman realitas, kompleksitas lingkup kehidupan manusia serta alam lingkungannya yang khas, sebagai locus teologicus di mana umat Keuskupan Bogor dipanggil untuk melakukan pertobatan dan menaburkan benih Kerajaan Allah sebagai wujud mengikuti Yesus Kristus.
  3. Bagian luar, yang terdiri dari tali, topi atas, dan mitra, adalah lambang hierarki Gereja. Bagian dalam, seperti dua belahan paru-paru yang dibatasi oleh “Tau” (T). Bagian kiri, terdiri dari langit, matahari, sungai, sawah ladang. Bagian kanan, terdiri dari jalan tol, rumah-rumah ibadat, lautan, hutan, gunung, bulan, dan bintang. Manusia, pria wanita, besar kecil, tua muda yang bergandengan tangan melukiskan perjumpaan insan yang semartabat, yang membentuk suatu communio.
  4. Latar belakang gagasannya: Umat Keuskupan Bogor terlibat secara aktif dan bahu-membahu bersama masyarakat lainnya dalam mengembangkan fungsi wilayah keuskupannya sebagai paru-paru kosmik yang menyalurkan udara segar bagi kehidupan umat manusia dan lingkungan alam ciptaan Tuhan.

Masing-masing Unsur

Salib “Tau”

Tempatnya sebagai pusat dan mengayomi, nampak seperti jangkar. Bentuk lain dari Salib Kristus, sekaligus juga menjadi tanda kelihatan dari komitmen orang-orang Kristen yang mengikuti Yesus Kristus. Dalam tradisi biblis, tanda “T” (Tau) dalam Yeh. 9:4-6b merupakan tanda keselamatan. Sumber keselamatan kita ialah Yesus Kristus. Dalam tradisi Fransiskan, Tau merupakan tanda pertobatan dalam rangka mengikuti Kristus yang tersalib.

Manusia yang bergandengan tangan

Menggambarkan persekutuan “communio” ang dipanggil Tuhan untuk melebarkan tenda persaudaraan itu dengan lingkungan hidupnya. Juga menggambarkan “Basic Ecclesial Community”. Manusia (Gereja) terpanggil untuk mengembangkan sikap menghargai alam ciptaan seperti hutan di pegunungan, sungai yang mengalir ke laut, sawah ladang.

Bintang

Menunjuk sila pertama lambang negara kita Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, serta menunjuk juga pada Kristus sebagai Bintang Kejora dan Bunda Maria Bintang Laut.

Rumah-rumah Ibadat

Menunjuk pada praktik hidup beriman yang terdapat dalam masyarakat di wilayah Keuskupan Bogor ini.

Matahari, bulan, hitan, gunung, sawah ladang

Realitas kosmik seperti Kebun Raya Bogor, hutan-hutan lindung, cagar alam, perkebunan, gunung dengan 4 puncak gunung yang tinggi, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Karang. Semuanya itu merupakan alam ciptaan Tuhan. Dalam dan bersama alam itulah, manusia menjalani hidupnya sehari-hari dan memuji keagungan Tuhan Allahnya (Laudate Montes).

Jalan tol

Melambangkan kemajuan dan transportasi yang memudahkan terjadinya perjumpaan antarkelompok dan antarmanusia.

Semoga seluruh hidup dan karya penggembalaan yang bersifat melayani mengantar semua orang untuk membangun “communio” dengan Allah dan sesama manusia serta seluruh alam ciptaan-Nya.

Motto Uskup

  1. Bunyi Semboyan

    “MAGNIFICAT ANIMA MEA DOMINUM” (Luk. 1:46). Semboyan ini menarik perhatian Mgr. Paskalis setelah ia merenungkan makna penunjukkan sebagai Uskup Bogor. Bersama Ibu Maria, Ibu Yesus, Mgr. Paskalis hendak menghayati kepercayaan Tuhan untuk terlibat aktif dalam karya keselamatan seluruh alam semesta ini.

  2. Arti Kata

    “MAGNIFICAT ANIMA MEA DOMINUM”: Jiwaku Mengagungkan Tuhan. Teks ini merupakan bagian dari Nyanyian Bunda Maria yang lahir dari sebuah PERJUMPAAN-nya dengan Elisabet, saudaranya. Perjumpaan ini menggembirakan, sekaligus menantang Bunda Maria. PERJUMPAAN ini ditandai oleh suatu relasi yang saling menghargai, menghormati, percaya satu kepada yang lain untuk bersama-sama mewujudkan karya keselamatan.

    • “Magnificat” merupakan nyanyian pujian, ungkapan hati yang lahir dari suatu pengalaman perjumpaan dengan Tuhan Allah dan perjumpaan antarmanusia. Tuhan memberi kepercayaan kepada manusia. Manusia diajak-Nya untuk ikut terlibat dalam perwujudan karya keselamatan-Nya. Ungkapan hati ini lahir dari perjumpaan sejati antarmanusia, karena dalam perjumpaan itu orang saling menghormati, saling menyapa dengan sikap positif, serta menghargai pengalaman iman orang lain. Perjumpaan sejati merupakan pangkal tumbuh dan berkembangnya suatu persaudaraan sejati, persaudaraan lintas budaya, lintas iman, lintas gender.
    • “Anima Mea” berarti jiwaku, roh yang terdapat dalam batinku mendorong diriku untuk melantunkan madah pujian kepada Allah atas karya agung-Nya dalam hidupku.
    • “Dominum” berarti Tuhan Allah merupakan “causa prima” dari segala dorongan manusiawi untuk memuji dan bersukacita. Tuhanlah aktor utamanya dan manusia menanggapinya secara aktif dengan tindakan menerima dan melaksanakannya. Tuhan jugalah yang menjadi “fine ultima“, tujuan tertinggi dari segala bentuk dan macam karya manusia. Hanya kepada Dialah segala usaha dan jerih lelah manusia diarahkan. Maka Tuhan juga menjadi tujuan akhir segala pujian dan usaha manusia.
  3. Pesan dan komitmen yang hendak diambil

    • Inilah kabar sukacita dari Allah untuk kita: Allah mempercayakan manusia dan melibatkan manusia untuk bekerja bersama Dia. Membangun dan memberikan kepercayaan satu sama lain merupakan bagian dari proses penggembalaan.
    • Allah menjumpai dan mendatangi manusia dengan suatu sikap menghargai. Mengikuti dan taat beriman pada Allah itu, Ibu Maria menjumpai dan mendatangi sesamanya sebagai saudara dengan sikap hormat dan menghargai.
    • Menggembalakan berarti pula mendatangi dan menjumpai sesama dalam spirit menghargai dan menghormati. Muncul komitmen untuk menciptakan agar kehidupan ini diisi oleh perjumpaan sejati antarmanusia dan manusia dengan Tuhan yang disembah dan dimuliakan. Sikap menghargai dan menghormati sesama itu diperluas dalam praksisnya dengan sikap menghargai alam ciptaan Tuhan. Di situlah terjadi persaudaraan sejati.
    • Ruang kehidupan ini perlu dipenuhi dengan semangat injili serta semangat “kegembiraan sejati”, magnificat, kendati gelombang tantangan hidup menerpa.

Sumber: Jalan Penuh Rahmat dari Ranggu ke Bogor (2014), buku kenangan tahbisan episkopal Mgr Paskalis Bruno Syukur.