Sikap Dendam Menutup Rahmat Allah

Sebab itu , jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hadi saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan di depar mezbaha itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu. (Matius 5: 23-24)

Renungan Harian
Jumat, 15 Maret 2019
Pekan Prapaskah I
Bacaan : Yehezkiel 18:21-28, Matius 5:20-26

Datang kepada Allah menuntut adanya hati yang damai. Sikap dendam tidak layak dibawa dalam doa dan ketaatan kita kepada Allah. Sikap dendam hanya akan menutup rahmat Allah. Aliran rahmat kasih Allah akan mengalir deras kepada setiap hati yang terbuka pada perdamaian dan pengampunan.

Sepanjang masa pertobatan ini kita diajak untuk semakin menata diri kita; menata hubungan kita dengan Allah, alam dan sesama. Di saat hati kita penuh dengan kebencian dan dendam, Allah mengajak kita untuk berdamai dahulu. Damai menandakan hati yang dikuasai Roh Allah. Dalam setiap Perayaan Ekaristi, Yesus memberikan pesan “Damai, Kutinggalkan bagimu. Damai-Ku, Kuberikan kepadamu”. Maka dalam setiap perjumpaan kita dengan Tuhan, damai menjadi salah satu buahnya.

Tuhan ajarlah aku untuk selalu hidup dalam damai, berani belajar mengampuni sekalipun itu berat karena kuyakin rahmat-Mu mengalir deras dalam setiap orang yang mau membawa damai. Amin

RD David


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.