Tuhan Berbicara dalam Hidup Kita

Jumat, 4 Oktober 2019
PW St. Fransiskus dr Asisi
Bac I  : Barukh 1:15-22
Mazmur : Mzm. 79:1-2,3-5,8-9
Injil  : Luk : 10:13-16

SAUDARA-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, indera pendengaran menjadi salah satu anugerah yang kita terima sebagai manusia. Dengan mendengar, manusia mampu memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Jika mendengar kabar buruk mengenai situasi teman atau kerabat, biasanya kita tergerak untuk melakukan sesuatu dan menolong orang lain. Tetapi, seringkali kita juga sulit untuk mendengarkan satu sama lain karena terlalu sibuk berbicara atau memikirkan diri sendiri. Akibatnya, kita juga kesulitan untuk mendengar Tuhan yang berbicara dalam hidup kita.

Hari ini Gereja mempertingati Peringatan wajib Santo Fransiskus dari Asisi. Santo Fransiskus dikenal dengan kesederhanaannya. Ia juga suka menolong dan memberikan perhatian kepada kaum miskin. Misi Fransiskus untuk mewartakan kabar gembira kepada banyak orang, terutama kepada kaum miskin, semakin menguatkan imannya akan Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa Fransiskus mau untuk membuka diri agar Tuhan senantiasa hadir dan menyapanya melalui berbagai cara yang unik. Fransiskus juga dikenal mampu mendengar suara Tuhan melalui komunikasi dengan binatang-binatang dan juga makhluk hidup lainnya. Karena kemampuan unik ini, ia menjadi santo pelindung bagi binatang dan lingkungan hidup.

Dalam bacaan hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana Tuhan menyapa melalui teguran dan bentuk-bentuk sapaan lainnya. Manusia tidak diminta untuk menolak Tuhan yang datang dan menyapa. Karena yang Ia bawa ialah kasih yang tulus, bukan kasih yang terpaksa. Menolak kasih yang ada di sekitar kita sama dengan menolak Tuhan yang hadir untuk kita manusia.

Oleh karena itu, kita diajak untuk melanjutkan misi perutusan Kristus, yakni mewartakan Kabar Ssukacita di mana-mana. Hidup dan karya panggilan St Fransiskus dari Asisi menjadi teladan kita. Kita tidak dipanggil hanya untuk mendengarkan diri sendiri. Situasi sesama kita yang lemah dan sakit, atau jeritan alam yang dieksploitasi, adalah suara-suara yang patut kita perhatikan.

Yesus tidak hanya meminta kita untuk berbicara mengenai diri-Nya, namun terlebih untuk menghadirkan kasih-Nya lewat tindakan nyata. Marilah kita semua memulai dari diri sendiri untuk mewartakan kasih Tuhan itu. Tidak perlu khawatir dengan besar-kecilnya kontribusi yang bisa kita lakukan saat ini; ketulusan dan keberanian adalah yang utama. Mari mendengarkan dan menjawab sapaan Tuhan lewat tindakan kasih bagi dunia. (Fr. Wolfgang Amadeus Mario S./RDHJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.