Bukan Soal Jumlah

Selasa, 10 Desember 2019
Hari Biasa, Pekan Adven II
Bacaan I        : Yes. 40: 1-11
Bacaan Injil    : Mat. 18: 12-14

ADA lima orang muda pada sebuah kelompok doa orang muda Katolik. Hampir setiap minggu, mereka mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu, yang dibahas atau bahan dalam pertemuan pun beragam. Mulai dari Kitab Suci, ajaran Gereja, katekese, atau sharing iman. Suatu saat, salah satu dari anggota kelompok itu sudah beberapa kali tidak mengikuti pertemuan. Awalnya mereka tidak terlalu memusingkan; mungkin orang itu sedang sibuk dengan kegiatan pribadinya. Namun, beberapa minggu kemudian, mereka merasa bahwa mereka harus setidaknya bertemu dengan orang tersebut. Akhirnya, mereka berempat sepakat untuk mengunjungi rumahnya dan kembali mengajaknya berkumpul dalam kelompok doa.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang bercerita kepada murid-murid-Nya tentang domba hilang, yang kemudian dicari oleh gembala itu. Yesus mengatakan kepada para murid bahwa ada seratus ekor domba yang dimiliki oleh seorang gembala. Tetapi ketika ada satu ekor domba yang tersesat atau hilang, maka gembala itu mencari domba yang hilang itu dan ia sangat bersukacita ketika ia menemukan domba yang sesat itu. Yesus ingin menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa begitulah kasih Allah kepada umat-Nya.

Perhitungan matematis manusiawi sangat jauh dari sikap Allah kepada kita. Bila dipikir dengan logika manusia, untuk apa gembala itu repot-repot mencari satu domba yang hilang itu, padahal masih ada sembilan puluh sembilan ekor domba yang ia miliki? Di sinilah letak kemurahan hati Allah kepada umat-Nya. Lima, tiga, atau bahkan satu yang hilang atau yang sesat dari pada-Nya, Allah akan mencari. Allah tidak ingin ada yang hilang dari kawanannya. Begitulah kasih Allah kepada kita. Allah menginginkan umat-Nya kembali kepada-Nya.

Kemurahan hati dan kasih yang begitu besar dari Allah jangan kita lihat sebagai sesuatu yang biasa. Kemurahan hati itu adalah suatu ajakan bagi kita semua untuk mengalami pertobatan. Allah yang menginginkan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya harus disertai dengan pertobatan. Terutama pada masa adven ini. Ini adalah ajakan yang penting. Ajakan yang meriah ini harus disertai dengan tanggapan yang meriah pula.

Dalam masa adven, kita menantikan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Ini adalah masa yang tepat untuk memperbaharui diri kita menjadi manusia yang lebih baru lagi. Masa pertobatan jangan dilihat sebagai masa yang mengharukan atau menyedihkan. Akan tetapi, seperti gembala yang senang dan bergembira menemukan kembali domba yang sesat itu, kita pun diajak untuk menyambut masa pertobatan ini dengan gembira. Kegembiraan itu berasal dari harapan untuk berjumpa dan bersatu kembali dengan Sang Gembala yang Baik. Kita bergembira karena kita akan menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan hati yang bersih, dengan hati yang gembira.

[Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]


Allah yang penuh belas kasih, kami bergembira karena Engkau tidak pernah membiarkan kami hilang. Bantulah kami untuk selalu mengenali suara-Mu, agar jangan kami hidup dalam keterpisahan dari-Mu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: