Bahagia Tanpa Iri Hati

Jumat, 13 Maret 2020
Pekan II Prapaskah
Bac. I Kej. 37:3-4.12-13a.17b-28
Mzm. 105:16-17.18-19.20-21
Bac. Injil Mat. 21:33-43.45-46

PENGALAMAN yang membahagiakan terasa istimewa karena tidak setiap saat dapat kita rasakan. Rasa bahagia itu juga bisa dibagi dan dirasakan bersama dengan orang lain. Kebahagiaan bisa menjadi egois ketika kita membatasi pengalaman itu hanya untuk diri kita saja. Hal berbagi kebahagiaan ini telah ditunjukkan Allah sejak awal mula, yang membagikan cinta-Nya kepada semua umat manusia tanpa kecuali. Dalam kehidupan sehari-hari, maukah kita berbagi kebahagiaan, atau hanya menyimpannya untuk diri kita saja? Akankah kita merasa iri dengan orang lain yang nampak memiliki kebahagiaan yang lebih dari kita?

Dalam bacaan hari ini, kisah Yusuf yang dibuang saudara-saudaranya dan perumpamaan Yesus mengenai penggarap di ladang anggur mau menegaskan pada kita bahwa Kerajaan Allah berlaku bagi siapa saja. Kerajaan Allah itu berisi sukacita, kebahagiaan, dan penuh kedamaian. Kerajaan Allah dalam bacaan Injil digambarkan sebagai tuan yang empunya kebun anggur. Kerajaan Allah dipercayakan kepada mereka yang bisa mengolah ladang dan menghasilkan buah yang melimpah tak hanya unntuk memuaskan dirinya sendiri, melainkan juga untuk kebaikan orang lain.

Kita juga bisa menghadirkan Kerajaan Allah itu di dunia ini melalui perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh ketulusan. Segala hal yang Allah percayakan bagi kita bukan semata-mata untuk kita simpan sendiri, melainkan harus kita olah supaya bisa menjadi berkat bagi sesama. Hal-hal yang dipercayakan Allah kepada kita termasuk juga Firman-Nya yang telah kita dengar dan pahami. Sebagai umat beriman, kita telah mengetahui kebenaran sejati yang berasal dari Allah. Oleh sebab itu, jangan sampai kita justru hidup seperti orang fasik yang tidak mengenal Allah. Jika melihat orang lain bahagia oleh hal-hal yang tidak kita miliki, jangan sampai kita merasa iri, melainkan ikut berbahagialah untuknya. Sebab kita juga tahu bahwa Allah mengasihi semua orang tanpa kecuali, dan takaran kasih-Nya tidak dapat dinilai hanya dari hal-hal yang nampak baik bagi dunia ini.

Oleh karena itu, marilah berbagi kebahagiaan lewat segala hal baik yang bisa kita lakukan di dunia ini. Mari kita mewartakan Kerajaan Allah yang memang pada dasarnya dirindukan oleh manusia. Kita berusaha agar Kerajaan Allah yang adalah sumber sukacita sejati itu sungguh dirasakan semua orang. Kita tidak perlu menjadi manusia yang dipenuhi dengan iri hati akan rezeki yang belum kita dapatkan. Kuasailah hati kita dengan rasa tulus ikhlas bahwa orang lain pun berhak bahagia dengan porsinya masing-masing. Jika kita mau berbahagia untuk orang lain, niscaya sukacita yang bersumber dari Tuhan pun hadir bagi kita.

[Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara/RDHJ]

Allah yang murah hati, Engkau telah menunjukkan pada kami bagaimana seharusnya kami mengasihi semua orang tanpa kecuali. Ajarilah kami untuk selalu taat pada Firman-Mu dan senantiasa percaya pada kuasa serta kebijaksanaan-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.