MENDUDUKKAN GREGORIAN SEBAGAI NYANYIAN YANG UTAMA

Berita Umat Paroki HKY Jonggol

Gregorian merupakan jenis lagu atau nyanyian yang sudah ratusan tahun atau sejak masa awal gereja dipakai dalam peribadatan dan misa umat Katolik di Roma atau Romawi.

Banyak sumber mengatakan kidung gregorian beserta lambang atau huruf not (neuma) diciptakan oleh Paus Gregorius Agung pada abad ke 6 (540-604) Dan sebagian literatur menyebut tercipta jauh setelah Pope Gregorius 1 tersebut, namun nama Paus tersebut dipakai untuk mengenalkan (propaganda) genre lagu ini.

Terlepas dari kepastian sejarah awal aslinya, nyanyian ini sungguh terdengar anggun, sakral, dan sangat indah, sehingga bisa menghantarkan pada suasana keheningan batin yang semakin mencintai Allah. Dan tradisi menyanyikan mazmur dalam setiap ibadat setiap hari sebanyak 9 kali dilakukan para biarawan monastik (pertapaan) Benedictine sejak ratusan tahun lalu.

Mengutip Br Ignatius Prakoso OSB (br Ignatio), Rahib Benedictin di Roma, yang mengatakan bahwa lagu gregorian berbeda dengan lagu yang biasa, karena memiliki teknik yang tinggi, tidak sekadar nyanyi, tapi bagaimana daya magis, spiritual dari lagu gregorian ditangkap sebagaimana seharusnya sehingga tercipta suatu suasana hening dan sakral.

Adapun ciri lain dari lagu gregorian adalah dinyanyikan dengan ringan dan mengalir, tidak putus-putus; Monophonic (satu suara tanpa aransemen, sehingga tidak cocok dibuat menjadi 4 suara), unaccompanied atau A capella (tanpa iringan alat musik).

Komposisi melodi berasal dari
kata-kata (dalam kitab suci dan dengan bahasa Latin atau Yunani).

Karena penyusunan lagu berawal dari tulisan, bukan sebaliknya (pada umumnya lagu masa kini lirik dibuat berdasarkan melodinya dulu yang sudah tercipta), maka pada gregorian tidak ada pola ketukan atau ritme atau birama serta sering penekanan pada kata kata tertentu yang dianggap penting, dengan demikian ada satu kata yang memiliki 32:not.

Lagu gregorian banyak terdapat di Puji Syukur dan TPE kita dalam bentuk lagu-lagu ordinarium, aklamasi dan sebagainya (proprium).

Namun kadang kita masih belum tepat dalam cara menyanyikannya sehingga belum sama yang terdengar seperti aslinya.

BAGAIMANA MENGAPLIKASIKAN GREGORIAN DI MASA KINI

Di tengah perubahan jaman serta setelah konsili Vatikan ke 2 dengan pertimbangan inkulturasi di seluruh dunia, dan lebih mendorong partisipasi umat, lagu ini menjadi jarang dipakai dalam misa karena dianggap sulit dan monoton.

Atau tetap dipakai namun dengan perubahan contohnya diterjemahkan sehingga nada berbeda dengan aslinya dan bisa menggunakan iringan untuk tetap menjaga nada tidak naik turun.

Di sisi lain, gereja ingin melestarikan khasanah kekayaan musik gereja yang agung ini. Dalam dokumen resmi gereja Misale Romanum no 41 sub Makna Nyanyian disebutkan bahwa gregorian harus mendapatkan tempat utama. Senada juga dengan yang termaktub pada MS (Musicam Sacram) no 50 dan 52. Serta pada SC (Sacrosanctum Concillium) no. 116.

Maka banyak usaha dan upaya melestarikan lagu ini. Seperti halnya yang dilakukan Gereja HKY Jonggol. Paroki muda ini ingin juga melestarikan lagu gregorian sebagai khasanah kekayaan gereja terlebih agar bisa membawa misa ke suasana yang sakral. Seperti yang diinisiasi oleh tim liturgi yang diketuai ibu Anna Ambar.

Pada Minggu, 2 Februari 2025, 130 orang perwakilan dari 11 lingkungan yang ada di paroki, juga ada peserta dari gereja di Lippo Cikarang (KAJ) belajar lagu gregorian dipandu oleh Bapak Thomas Aquino Sutadi, pengajar lagu gregorian di Sekolah Seminari di Bogor.

Bapak Thomas menjelaskan sejarah terbentuk dan perkembangan lagu gregorian ini. Beliau juga menjelaskan mengapa lagu ini pantas dan menjadi penting untuk dipertahankan atau diperjuangkan. Beliau sangat berharap, karena melihat antusiasme umat paroki ini dalam belajar gregorian, alangkah baiknya bisa mengadakan misa bahasa latin seperti yang sudah dilakukan Paroki Faustina Bojong.

Pak Thomas juga sangat mengapresiasi romo Pera dan Romo Dominikus dalam mendorong umat agar dapat juga melestarikan kekayaan gereja ini, salah satunya yaitu dengan tertib dan disiplin dalam.pemilihan lagu yang dipakai dalam misa, serta mendorong terbentuknya paduan suara gregorian.

Selain memberikan tip tip cara berlatih gregorian, cara membaca neuma sederhana, mencontohkan cara menyanyikan yang benar, beliau juga memberi kesempatan dirigen praktek mengaba yang benar.

Kegiatan hari ini cukup berkesan bagi peserta dan peserta berharap ada kelanjutan dari pengenalan hari ini. Sementara Pak Thomas juga memberikan pr bagi peserta untuk berlatih lagu Gregorian diantaranya Credo no 3 dengan teknik yang sudah diajarkan.

Acara yang dibuka dengan ibadat yang dipimpin oleh Romo Pera Arif Sugandi, diakhiri dengan ibadat penutup yang didahului kesimpulan oleh Romo Tukiyo pada pukul 16.30.

Catatan: video tutorial pelatihan hari ini akan disiapkanurk penayangan di YouTube komsos HKY.

Reportase Komsos HKY
Fransiska Fajariani
Doc Teddy P, Ardo G, Rendy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Enable Notifications OK No thanks