Misa Perdana Romo Pera Hadirkan Kearifan Lokal Kalimantan Barat

Bogor – keuskupanbogor.org : RD Paulus Pera Arif Sugandi (Pastor Vikaris Paroki St. Andreas – Sukaraja) yang menerima tahbisan imamat tiga bulan yang lalu (1/11/2018) di Paroki BMV Katedral Bogor baru-baru ini tengah melangsungkan rangkaian misa perdana di paroki asalnya, Gereja Stasi Santo Yosef Pekerja, Dusun Cuka Hilir, Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat. Romo Pera bersama angkatannya (Romo Dion, Romo Nanang dan Romo Arie) menuju Pontianak pada sabtu, (16/02/2019) yang lalu. Romo Pera merupakan imam pertama yang berasal dari Gereja Stasi Santo Yosep Pekerja, Cuka Hilir, Keuskupan Sangau.

Romo Pera bersama angkatannya (Romo Arie, Romo Dion dan Romo Nanang) dalam prosesi adat budaya Sanggau. (Foto : RD Dion)

Butuh kurang lebih 6 jam dari Pontianak menuju rumah Romo Pera. Perjalanan panjang membuat badan cukup lelah tetapi tidak dengan semangat para imam-imam muda ini. Hormat pada budaya dan kearifan lokal setempat pun harus dijalankan. Dua rangkaian upacara adat mengawali kedatangan para imam-imam ini : Menari bersama dalam bentuk lingkaran yang dilakukan oleh para kaum adam dan upacara minum tuak dari tempayan yang sama. Banyaknya tuangan tuak yang diminum Romo Pera, itu pula jumlah tuangan yang wajib diminum oleh yang lainnya. Romo Pera hanya mampu minum dua gelas, teman-temannya imam yang lain pun hanya minum dua gelas saja. Tradisi minum tuak bersama menjadi simbol kebersamaan dan diterima dalam persaudaraan menurut budaya Sanggau.

Romo Pera merayakan misa perdana di Gereja Stasi St. Yosef Pekerja, Cuka Hilir, Keuskupan Sanggau. (Foto : RD Dion)

Minggu (17/02/2019), Romo Pera melangsungkan misa perdananya di Gereja Stasi Santo Yosep Pekerja, Cuka Hilir bersama dengan ketiga teman angkatannya dan RP Yustinus Paulus CP (Pastor Paroki Hati Kudus Yesus, Rawak). Misa diselenggarakan dalam kesederhanaan yang sarat persaudaraan dan keakraban. Turut hadir dalam Perayaan Ekaristi itu adalah asisten pribadi bupati Sekadau, kepala desa, serta beberapa anggota pemerintahan. Usai Perayaan Ekaristi para romo ini mengikuti  prosesi perayaan secara adat. “Kami berempat diminta untuk ikut menari bersama dengan umat yang ada. Selanjutnya kami berempat juga diminta untuk minum tuak di tempayan yang sudah disiapkan”, jelas Romo Dion dalam komunikasi via wa.
“Suasana kekeluargaan sungguh terasa sekali karena setiap umat yang ada di stasi tersebut turut mengambil bagian di dalam perayaan syukur tersebut”, tutur Romo Dion.  “Perayaan syukur di Dusun Cuka Hilir ini merupakan sebuah kesempatan yang istimewa yang meneguhkan imamat kami”, lanjutnya penuh semangat.

Penulis : RD David

Sumber : RD Dion Manopo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.