Iman Kita Bukan Medsos

Rabu, 28 Agustus 2019
Pekan Biasa XXI, PW St. Agustinus
Bacaan I        : Tes. 2: 9-13
Mazmur          : Mzm. 139:7-8.9-10.11-12ab
Injil           : Mat. 23: 27-32

AGUSTINUS dari Hippo merupakan seorang bapa Gereja yang terkenal karena sejarah hidup dan ajarannya. Agustinus lahir pada tahun 354. Ketika belajar di Kartago, hidup Agustinus mulai kacau karena menganut Manikeisme. Manikeisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa barang materi adalah hal yang jahat, sehingga manusia harus dibebaskan dari materi. Di Roma, Agustinus bertemu dan banyak belajar dari Santo Ambrosius, seorang uskup di Milan. Kemudian ia bertobat dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 391. Empat tahun kemudian, ia ditahbiskan menjadi uskup Hippo dan meninggal pada tahun 430. Salah satu karya Agustinus yang terkenal adalah “Confession”, buku yang menceritakan riwayat dan refleksi hidup dan pertobatannya. Banyak juga pemikirannya tentang filsafat dan teologi yang mempengaruhi ajaran Gereja dan para teolog sampai masa kini.

Zaman sekarang, media sosial (medsos) menjadi hal yang tidak asing lagi dengan hidup kita. Tidak hanya orang muda, anak-anak dan orang tua mulai akrab dengan facebook, twitter, instagram, dan youtube. Layaknya sebuah etalase, medsos mempunyai fungsi untuk memajang buah pikiran, buah karya, bahkan identitas diri, sehingga medsos tidak hanya digunakan untuk sarana komunikasi. Tentunya, di medsos kita ingin memajang hal baik dan menarik. Oleh karena itu, usaha membuat orang lain terkesan pun malah menjadi tujuan utama dari medsos. Demi mendapatkan pengakuan, sesuatu yang berbeda dari diri kita sehari-hari ditampilkan di medsos. Tak jarang, ‘penipuan kecil-kecilan’ pun kita hadirkan lewat medsos: foto diedit dan dimanipulasi sedemikian rupa agar terlihat menarik, karya-karya orang dijiplak, dan sebagainya.

Jika kita tidak segera sadar, kepalsuan-kepalsuan tersebun akan mengarah menuju kemunafikan. Kemunafikan adalah suatu kondisi yang tidak sinkron antara apa yang ditampilkan ke luar (orang lain) dengan apa yang ada di dalam (diri sendiri). Kemunafikan juga bisa berarti adanya perbedaan antara apa yang dilakukan, apa yang dipikirkan, dan apa yang diyakini. Penampilan menjadi yang diutamakan.

Dalam kehidupan orang beriman, kecenderungan seperti itu dapat muncul. Rajin ke gereja atau pertemuan lingkungan, memajang benda-benda rohani yang banyak di rumah, dan memakai kalung salib tentu bukan merupakan hal yang salah. Tapi, apakah kita betul-betul menghayatinya, atau hanya sekadar tampilan belaka agar dianggap saleh dan aktif hidup menggereja?

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan agar kita tidak munafik seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus menggambarkan kemunafikan seperti kuburan yang tampak indah luarnya, tetapi penuh tulang-belulang dan jenis kotoran di dalamnya. Kita dapat belajar dari Santo Agustinus yang telah mencontohkan bagaimana hidup yang sinkron antara perkataan, perbuatan, dan iman.

Rahmat Allah cukup bagi kita untuk mengisi hal-hal dalam diri kita, seperti iman dan kebijaksanaan. Dengan demikian, kita bertindak dengan tulus dan murah hati kepada orang lain karena tidak ada kemunafikan. Semoga kita semakin dapat mensinkronkan tindakan, ucapan, dan iman sebagai usaha menuju hidup yang suci. Jangan sampai hidup beriman kita seperti medsos, yang berbeda antara tampilan dan isi. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Ya Tuhan, kami bersyukur karena Engkau telah memilih kami sebagai anak-anak-Mu. Bantulah kami setiap hari untuk hidup saleh, bukan untuk mengundang kekaguman orang, namun agar sabda-Mu betul-betul bekerja giat dalam diri kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: