Yesus, Dokter Terandal

Rabu, 04 September 2019
Pekan Biasa XXII
Bacaan I        : Kol. 1: 1-8
Mazmur          : Mzm. 52: 10.11
Injil           : Luk. 4:38-44

KITA pasti pernah merasakan sakit, entah itu sakit fisik maupun mental. Ketika kita sakit, tak segan-segan kita mencari orang yang dapat menyembuhkan, seperti dokter agar dapat ditangani secara medis, atau seorang sahabat untuk sekadar curhat. Dalam situasi kritis, kita tetap datang ke dokter walaupun tidak kenal dengan dokter tersebut. Mengapa? Karena kita percaya bahwa dokter tersebut dapat menyembuhkan dengan segala kemampuannya dibantu dengan obat-obatan. Adanya rasa kepercayaan kepada dokter menimbulkan perasaan aman, yakin bahwa kita ada di tangan yang tepat.  

Di dalam Injil hari ini, kita melihat peran Yesus sebagai dokter yang menyembuhkan orang banyak. Pertama-tama, ibu mertua Simon yang sakit demam keras disembuhkan oleh Yesus. Kemudian orang banyak pun datang dan minta disembuhkan. Orang banyak itu datang karena mereka percaya dan yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka.

Kepercayaan dan keyakinan mereka yang besar menjadi tanda iman mereka pada Yesus. Diceritakan Yesus tidak hanya menyembuhkan orang dari sakit fisik, melainkan menyembuhkan orang-orang yang kerasukan setan. Itu artinya Yesus tidak hanya peduli terhadap orang-orang yang sakit secara fisik, melainkan peduli juga terhadap orang-orang yang sakit secara mental. Dengan segala kuasa-Nya, Yesus dapat menyembuhkan orang-orang karena Ia memang peduli dan mengasihi mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat merenungkan seberapa besar rasa percaya kita kepada Yesus. Ketika kita sakit atau berada dalam kesusahan yang berlarut-larut, apakah kita datang kepada Yesus atau mencari jalan pintas? Atau ketika doa-doa kita belum dikabulkan, apakah kita tetap percaya pada Yesus?

Rasa sakit yang berkepanjangan cenderung membuat kita putus asa, seakan-akan berbagai usaha yang telah dilakukan sia-sia belaka. Di sisi lain, Yesus tetap menunggu kita untuk tetap percaya pada-Nya karena Ia akan melakukan sesuatu yang tepat guna dan tepat waktu. Yesus menyembuhkan tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat juga.

Lalu, dari mana kita dapat merasakan penyembuhan dari Yesus? Selain lewat tangan-tangan orang lain yang berbelas kasih, Yesus juga memberikan penyembuhan di dalam dan lewat Sakramen Ekaristi. Dalam seruan sebelum komuni, dikatakan “ Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”. Pernyataan itu sangat tegas bahwa Tubuh dan Darah Kristus di dalam Ekaristi mempunyai efek penyembuhan kepada orang yang percaya.

Yesus berperan sebagai dokter kepada orang-orang yang sakit fisik maupun sakit mental, seperti sedih dan putus asa. Akan tetapi, sebelum disembuhkan Yesus, kita perlu percaya dan datang pada-Nya. Semoga kita semakin dapat percaya kepada dokter kita yang paling hebat, yakni Yesus. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Yesus yang murah hati, kami percaya tiada hal yang tak mungkin bagi-Mu. Dampingilah dan berilah kesembuhan bagi mereka yang sakit. Tahirkanlah kami dari luka-luka batin yang merantai kebebasan jiwa kami, supaya kami boleh menjadi pewarta rahmat-Mu yang tak berkesudahan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.