Cinta Itu Ungu

Sabtu, 28 September 2019
Pekan Biasa XXV 
Bacaan I     : Za 2:1-5.10-11a
Bacaan Injil : Luk 9:43b-45                                                                        

PERPADUAN merah dan biru menghasilkan warna ungu. Dalam kacamata psikologi warna, merah melambangkan kehidupan, sedangkan biru melambangkan harmoni. Kehidupan yang harmonis merupakan wujud dari cinta. Warna ungu juga menampilkan kekuatan roh (spirit). Dalam hal ini, saya ingin menyampaikan bahwa roh berdaya untuk mengubah seseorang, demikian pula dengan cinta.

Bila hidup saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus merasa kosong, flat atau monoton, sebuah saran dari saya; mencintailah!

Manusia adalah perwujudan cinta dari Allah. Oleh karenanya, kita pun menjadi mampu mengasihi, berbuat kebaikan, bahkan berkorban. Cinta tak melulu berkaitan dengan kehadiran pasangan hidup. Ia hadir dalam ketulusan yang dapat kita tujukan bagi berbagai ciptaan: teman, keluarga, kaum miskin dan sakit, lingkungan hidup, bahkan negara.

Cinta ini jugalah yang memberi makna dalam hidup. Cinta penuh gairah sekaligus menenangkan; cinta menyejukkan sekaligus menyakitkan; cinta membangun sekaligus meruntuhkan; cinta berkorban sekaligus mengorbankan. Anda dapat membayangkan bagaimana indah dan penuh warnanya hidup ini, bila ada cinta.

Demikian hari ini Yesus menyampaikan kepada para murid-Nya dengan penuh cinta, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia”(ay 44). Mengapa saya bilang demikian? Karena rahasia terbesar Yesus disampaikan kepada para murid. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, rencana besar dari Allah yang secara esklusif disampaikan kepada Yesus, dengan penuh keberanian Ia beritahukan kepada orang lain. Anda pasti dapat membayangkan bagaimana Yesus bergulat dengan dirinya untuk melakukan hal itu. Tapi cinta menggerakkan dirinya untuk berani.

Menjadi lebih menarik pada ayat berikutnya, dikatakan “mereka tidak mengerti perkataan itu…”(ay 45) Bila anda pernah mencintai, pasti anda memahami, bahwa cinta selalu tidak berbentuk (amorphous). Ketiadaan bentuk membuat kita sulit memahami maksud dari cinta itu. Mencintai tidak pernah butuh penjelasan dan alasan. Cinta datang begitu saja, seolah dia berdiri sendiri dan memiliki kehendak seperti manusia.

Cinta adalah sebuah anugerah besar dari Allah yang membuat kita semua terlahir. Mencintailah! Dan rasakan perubahannya. Tuhan memberkati. (Fr. Petrus Damianus Kuntoro)


Allah Bapa, ada saat-saat kami tidak memahami kehendak-Mu dalam hidup kami. Tapi kami yakin dengan segenap hati, bahwa semua rancangan-Mu berlandaskan cinta yang begitu besar dan ditujukan bagi kebaikan kami, apa pun bentuknya. Bantulah kami untuk bersukacita karena cinta itu, dan meneruskannya kepada sesama kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.