Berjaga untuk Kedatangan-Nya

Selasa, 22 Oktober 2019
Pekan Biasa XXIX 
Bacaan I        : Rom. 5: 12. 15b. 17-19.20b – 21
Bacaan Injil    : Luk. 21: 36

KESIBUKAN yang kita lalui sering membuat kita lupa waktu. Bahkan terkadang kita pun sampai merasa bahwa waktu 24 jam sehari masih tidak cukup untuk melakukan pekerjaan kita. Karena terfokus untuk mengejar suatu pencapaian, kita pun lupa akan tujuan dan makna hidup kita sebagai manusia. Dengan kesibukan yang kita jalani, apakah makna itu tetap ada? Atau paling tidak, apakah dengan kesibukan kita, kita ingat untuk berdoa dan membina relasi dengan Allah?

Bacaan pada hari ini, terutama bacaan Injil, ingin mengajak kita untuk terus berjaga-jaga untuk kedatangan Yesus kembali. Bersiap akan kedatangan-Nya adalah suatu cara bagi kita sebagai orang beriman untuk terbuka terhadap-Nya: terhadap kasih-Nya, kebaikan-Nya, keselamatan yang diberikan-Nya. Frasa ‘berjaga-jaga’ menggambarkan bahwa setiap harinya kita harus berpantas diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Maka apa yang kita lakukan dan ucapkan, tentu harus mencerminkan apa yang Tuhan ajarkan kepada kita. Penantian ini tidak hanya berlaku untuk masa yang akan datang, tetapi juga harus menjadi nyata dalam sikap kita saat ini.

Di tengah hiruk pikuk kesibukan kita, hidup kadang menjadi terasa hambar, tanpa makna. Dengan rutinitas yang terus mengulang, rasa jenuh pun menyusup. Karena kejenuhan ini, ucapan syukur tiada keluar dari mulut dan hati kita. Bahkan, saat-saat berdoa juga menjadi sesuatu yang hambar. Dalam keadaan seperti ini, hal yang harus kita lakukan adalah terus berdoa dengan tuntunan Roh Kudus dan mendengarkan suara Tuhan melalui Firman-Nya. Santo Paulus berkata bahwa “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (bdk. Roma 8:26).

Relasi dengan Tuhan yang kita bina melalui doa dan tindakan amal kasih adalah bukti kita telah bersiap akan kedatangan-Nya. Mari menjadikan relasi ini sebagai prioritas hidup yang harus kita jalankan beriringan dengan segala aktivitas kita; di tengah pencobaan maupun di tengah kegembiraan. Sehingga ketika Ia datang, kita sudah siap. Maukah kita? (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)


Ya Yesus, di tengah-tengah kepadatan aktivitas kami, semoga kami dapat selalu menyadari bahwa semua yang kami miliki saat ini adalah berkat kebesaran-Mu. Oleh karena itu, bantulah kami untuk selalu hidup seturut kehendak-Mu hingga pada saatnya Engkau datang kembali. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.