Sempat Tak Sempat Harus Dibalas

Sabtu, 26 Oktober 2019
Pekan Biasa XXIX 
Bacaan I     : Roma 8: 1-11
Bacaan Injil : Lukas 13: 1-9

HIDUP ini adalah kesempatan. Saya percaya manusia dapat berubah, dalam hal ini saya mendefinisikan berubah ke arah yang positif. Sekeras-kerasnya Firaun, ia sempat mengurungkan dirinya mengejar bangsa Israel karena murka Allah. Begitu juga Herodes yang sempat goyah karena iman Yohanes Pembaptis, serta Pilatus yang merasa bahwa Yesus Kristus tidak memiliki kesalahan apapun. Roh Kudus berkarya pada seseorang dengan bisikan lembut, hingga menyentuh afeksi (perasaan) seseorang, tetapi kadang manusia tidak peka terhadap bisikan itu.

Ada sebuah pantun lawas: “4×4=16, sempat tak sempat harus dibalas”. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa kehadiran Kristus di dunia ini bukan sebuah tontonan yang tidak bermakna. Yesus ingin menantang kita untuk berani membalas kebaikan dan kasih Allah yang sudah diberikan secara cuma-cuma (gratis) kepada kita. Hidup dalam Roh adalah sebuah peluang atau kesempatan, namun tidak jarang kita justru menganggapnya sebagai ancaman. Gerak Roh memang irrational dan unpredictable tatkala menyentuh sanubari kita.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, Lukas turut mengajak kita untuk tidak cepat memutuskan bahwa penderitaan dan keberuntungan merupakan petunjuk mengenai keadaan rohani seseorang (lih. Mat 5:45). Selain itu, kita pun sepatutnya tidak mudah mengklaim bahwa musibah yang dialami seseorang adalah cerminan dari ukuran dosanya (ay 2,4). Yesus menolak pemikiran picik seperti itu (lih. Yoh 9:2-3). Karenanya, peristiwa kematian yang terjadi pada seseorang bukanlah alasan bagi kita untuk menilai dosa yang mereka perbuat. Justru peristiwa tersebut adalah sebuah peluang untuk merefleksikan diri pada pertobatan (metanoia). Yesus memakai perumpamaan pohon ara sebagai analogi yang dirasa dekat dengan pemahaman mereka. Meski pohon ara tersebut layak ditebang karena terus tidak menghasilkan buah, pohon itu hendak diberi kesempatan lagi.

Allah yang Maha Sabar senantiasa mengingatkan manusia untuk menyadari bahwa hidup yang dikuasai dosa akan membawa penghakiman bagi dirinya. Meski manusia berulang kali melakukan kesalahan, Allah tidak pernah jemu membari peluang atau kesempatan.

Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang paling besar dengan mengutus Putera Tunggal-Nya ke dunia untuk menebus dosa umat manusia. Perbuatan baik kita–sebesar atau sebanyak apapun memang tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih itu. Namun, mari saudara-saudari yang dikasih Tuhan, kita memanfaatkan peluang atau kesempatan dala hidup yang diberikan oleh Allah seefektif mungkin. Kita sadari bahwa tindakan keadilan dan belas kasih adalah buah pertobatan, maka kita lakukan itu sebagai wujud balasan kita terhadap cinta Allah. (Fr. Petrus Damianus Kuntoro)


Allah yang maharahim, sungguh besar kasih-Mu bagi kami sehingga Engkau terus memanggil kami untuk kembali bersatu di jalan-Mu. Seperti Engkau yang tidak mengingat kesalahan, semoga dengan tuntunan Roh-Mu kami pun tidak cepat menghakimi orang lain, melainkan terus membaktikan hidup kami bagi pewartaan kasih-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.